Moralitas: pelita kehidupan keluarga
Stanislaus Nugroho
Dewasa ini kehidupan manusia ditandai oleh adanya perkembangan dan kemajuan yang sangat luar biasa, sangat menakjubkan. Kemajuan dan perkembangan tersebut dipicu dan didorong oleh adanya kemajuan di bidang sains dan teknologi yang sangat luar biasa, khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi.
Sebagaimana biasa setiap kemajuan dan perkembangan selalu mempunyai dua sisi. Sisi pertama biasanya berciri positif: hidup manusia menjadi lebih nyaman, lebih gampang, lebih enak. Namun sisi yang lain berupa ancaman: kebingungan nilai-nilai yang dianut, dan terjadinya deforestisasi dan peng-gurun-an, pemanasan global, efek rumah kaca; hujan asam; kerusakan lapisan ozon atau dengan satu istilah ’perusakan ekosistem’ yang sangat mencekam. Ancaman ini merupakan akibat dari ulah manusia, ada masalah moral dan etis yang sangat serius karena tidak hanya mengancam satu dua orang, namun mengancam seluruh umat manusia, ancaman ini bukan main-main. Maka John Naisbitt dan kawan-kawan lewat bukunya - yang merupakan suatu usaha mencari makna di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa, khususnya di bidang teknologi informasi - mengingatkan pentingnya moralitas.
Namun, biasanya orang segan berbicara tentang moralitas, cukup banyak orang yang sambil mencibirkan bibir berkomentar, ’ah, lu sok suci’. Padahal moralitas itu penting, bahkan sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebelumnya mungkin baik bila kita jelas dulu dengan apa yang dimaksud dengan moralitas. Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) halaman 592 maka kita menemukan penjelasan sebagai berikut ”moralitas, sopan santu, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun”. Kalau kita membuka buku Etika (1993) karangan K. Bertens, halaman 7, maka kita menemukan penjelasan sebagai berikut ”Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk”. Bagi saya moralitas merupakan ’suatu disposisi sikap manusia terhadap suatu tindakannya sendiri atau orang lain, maka moralitas berkaitan dengan kemamuan manusia untuk berpikir, berperasaan dan berkemauan/berkehendak bebas’.
Mengapa moralitas itu penting? Moralitas menjadi sangat penting karena moralitas mengacu pada keutuhan manusia sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri. Manusia sebagai citra Allah diberi anugerah yang luar biasa yaitu: kebebasan, kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. Untuk dapat menggunakan kebebasannya dengan tepat maka paling sedikit manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan empat talenta dasar, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral, dan kecerdasan memaknai. Bila manusia mampu mengembangkan dan mensinergikan keempat kecerdasan itu maka dia akan mampu mengubah ancaman menjadi peluang karena manusia mampu untuk selalu berpikir dan bersikap positif .
Dari keempat kecerdasan tersebut maka pada kesempatan ini saya akan berfokus pada kecerdasan moral, sesuai dengan judul tulisan ini. Yang saya maksud dengan kecerdasan moral adalah kemampuan manusia untuk membedakan yang baik dan yang buruk, mampu membedakan yang benar yang salah. Sejarah pemikiran manusia telah memperlihatkan sejak lama betapa begitu banyak pemikir (dalam kaitan ini saya hanya menyebut empat pemikir, dua dari barat dan dua dari timur). Sudah diawali pada abad 5 sebelum Masehi di Yunani oleh orang yang bernama Sokrates (470/469-399 SM), dalam diskusinya dengan kaum Sofis, Sokrates sampai pada kesimpulan bahwa ’tujuan tertinggi/tujuan akhir hidup manusia ialah membuat jiwanya (daimonnya) menjadi sempurna’. Maka bagi Sokrates berbicara tentang moralitas berarti ’Kita sedang membicarakan masalah yang tidak kecil, yakni mengenai bagaimana kita harus hidup’. Kesimpulan ini diikuti dan dilanjutkan oleh Plato (428/427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Dari ketiga pemikir tersebut dikenal istilah empat keutamaan filosofis, yaitu kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan.
Sedang di Timur (Tingkok) muncul pemikir-pemikir seperti Konfusius (551-479 SM) dan Laotse (604-531 SM). Konfusius sangat menekankan pentingnya pembangunan diri atau pemberadaban diri atau ’self cultivation’, dengan kata lain Konfusius menekankan pentingnya keteladan moral serta pentingnya membuat keputusan yang tepat. Begitu pula dengan Laotse yang mengemukakan adanya tiga keutamaan utama yaitu compassion (bela rasa baik dalam suka maupun dalam duka); moderation (bersikap moderat/tidak berlebihan) dan humility (kesederhanaan) .
Pemikiran-pemikiran semacam ini dalam sejarah pemikiran manusia dikenal dengan istilah etika keutamaan (virtue ethics) yang sampai sekarang masih tetap ada yang mengikuti dan mengembangkannya, misalnya yang paling banyak dipelajari saat ini adalah apa yang dikembangkan Sthephen R. Covey – yang menjadi terkenal – dengan bukunya yang berjudul The Seventh Habits of Highly Effective People (1989) dan kemudian pada tahun 1999 terbitlah buku yang berjudul The Seventh Habits 0f Highly Effective Families, dilanjutkan dengan bukunya yang paling akhir – sejauh yang yang saya ketahui – berjudul The Eight Habit. From Effectiveness to Greatness (2004).
Pada akhir tahun 2004 KWI menerbitkan Nota Pastoral dengan judul Keadaban Publik: Menuju Habitus baru Bangsa. Keadilan Sosial bagi semua: Pendekatan Sosio Budaya . Dalam Nota Pastoral tersebut dinyatakan adanya tiga penyakit sosial yang menggerogoti keadaban publik. Ketiga penyakit sosial tersebut tidak lain adalah korupsi, kekerasan dan kehancuran lingkungan. Di samping ketiga penyakit sosial tersebut maka saya pikir perlu disebut juga satu penyakit sosial yang lain, yaitu kemiskinan, atau mungkin lebih tepat ketimpangan pembangunan manusia seutuhnya. Dan saya pikir ke empat penyakit sosial tersebut sebenarnya berakar pada hancurnya moralitas, matinya hati nurani. Kemampuan manusia untuk membedakan yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah makin tergerogoti oleh desakan budaya ’pola hidup yang sangat konsumtif’, pola hidup yang ditandai dengan semangat mengejar kenikmatan, kesenangan (hedonisme) dan mengejar materi (materialiasme). Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini artikel 16 merumuskan dengan indah apa yang dimaksud dengan hati nurani, yakni ’Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaanNya menggema dalam batinnya’. Dengan rumusan tersebut – bagi saya – Gereja ingin mengajarkan kepada kita semua agar kita membangun suatu relasi yang akrab dan mesra dengan Allah, agar hati nurani kita sungguh menjadi peka. Memang suatu ironi dengan kondisi kita saat ini di mana secara formal kehidupan beragama di Indonesia sangat meriah, mesjid, gereja dan tempat-tempat ibadat yang lain selalu penuh pada saat umat beribadat, namun di lain pihak penyakit sosial sebagaimana yang telah disebut di atas merajalela. Itulah akibat kalau kita mengalami keterjebakan dalam formalisme, ritualisme dan legalisme agama. Antara kehidupan beribadat dan kehidupan sosial sehari-hari terjadi kesenjangan yang semakin melebar, seperti rela kereta api yang tidak pernah bertemu.
Dalam kondisi seperti ini maka keluarga memperoleh tantangan berat namun sangat strategis – hal ini berkaitan dengan peranan keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama – yaitu bagaimana membekali anak-anak dengan akar (nilai-nilai) yang kuat. Pembekalan ini berlangsung dalam konteks komunikasi keluarga, baik verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal terungkap lewat dialog, pembicaraan dari hati ke hati, bukan instruksi, bukan debat, sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, art. 52 sebagai berikut ”Keluarga merupakan suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan. Supaya keluarga mampu mencapai kepenuhan hidup dan misinya, diperlukan komunikasi hati penuh kebaikan , kesepakatan suami isteri, dan kerjasama orangtua yang tekun dalam pendidikan anak-anak”. Komunikasi non-verbal terungkap lewat keteladanan orangtua, dari pengalaman menjadi jelas bahwa pendekatan ini adalah yang paling berdaya-guna. Nilai-nilai mana yang perlu dikomunikasikan? Sebelumnya mungkin baik bila kita mencoba merumuskan terlebih dahulu apa sebenarnya yang kita maksud dengan nilai itu. Nilai itu selalu berkaitan dengan sesuatu yang positif/baik, baik secara moral, dengan menghayati nilai-nilai tersebut maka kita akan menjadi manusia yang utuh. Seorang pemikir Jerman yang bernama Max Scheler (1874-1928) berpendapat bahwa nilai itu suatu kualitas yang bersifat apriori (= untuk menghayatinya tidak memerlukan suatu pengalaman konkret). Selain itu bagi Max Scheler nilai mengenal tingkatan, mengenal hirarki, dari tingkat rendah ke tingkat tinggi. Mulai dari nilai-nilai yang berkaitan dengan kesenangan, kenikmatan, nilai-nilai ini berkaitan dengan yang indrawi. Disusul nilai-nilai yang berkaitan dengan vitalitas atau kehidupan, nilai-nilai ini tidak lepas dari kesejahteraan hidup baik pribadi maupun sosial. Berikutnya ada nilai-nilai yang berkaitan dengan yang-spiritual, kadang-kadang untuk menghayatinya kita perlu ’mengorbankan’ sesuatu misalnya yang berkaitan dengan nilai-nilai tingkat pertama bahkan tingkat yang kedua, umpamanya keindahan, keadilan. Akhirnya nilai tingkat ke empat berkaitan dengan kesucian, dengan yang absolut.
Diane Tillmann dan Pilar Quera Colomina mendaftarkan 12 nilai-nilai sebagai berikut: kedamaian; penghargaan; cinta; kebahagiaan; kebebasan; kejujuran; kerendahan hati; toleransi; kerjasama; tanggungjawab; kesederhanaan dan persatuan. Keduabelas nilai tersebut merupakan nilai-nilai universal yang harus kita perjuangkan bagi terciptanya dunia baru, dunia yang lebih baik, dunia yang kita dambakan. Bagi saya daftar nilai tersebut diatas perlu ditambah dengan satu nilai yang sangat relevan dengan kondisi sekarang, yaitu kepedulian (care) yang tulus dalam konteks relasi dengan orang lain, sebagaimana ditekankan oleh Carol Gilligan dalam bukunya yang berjudul In a Different Voice: Psychological Theory and Woman’s Development (1993).
Kembali ke Nota Pastoral KWI 2004, Gereja Indonesia mengajak kita semua untuk membangun budaya alternatif, Gereja sadar sesadar-sadarnya bahwa ”membangun dan mengembangkan budaya alternatif bukan pilihan yang mudah, karena Gereja sendiri rapuh, tidak mudah memperbaharui diri dari dalam dan Gereja hidup di tengah-tengah masyarakat yang dilanda oleh kekuatan-kekuatan yang merusak itu. Namun dengan membangun dan mengembangkan budaya alternatif, Gereja memperlihatkan bahwa masih ada kemungkinan lain yang dapat dilakukan untuk mengadakan perlawanan terhadap perusakan keadaban publik. Pengembangan budaya alternatif paling ideal dilakukan melalui pendidikan nilai, khususnya bagi orang muda. Melalui pendidikan itu, mereka diajak, diberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengalami secara nyata makna kehidupan, kasih sejati, pengampunan dan nilai-nilai yang lain. Dalam hal ini peranan keluarga amat menentukan ” (art.19).
Akhirnya marilah kita tanggapi secara positif ajakan Gereja Indonesia tersebut, agar moralitas sungguh dapat menjadi pelita kehidupan keluarga di dunia, khususnya di Indonesia, dengan berusaha sungguh-sungguh membangun budaya nilai di keluarga kita masing-masing.
Bogor, 27 Januari 2012.
Dengan blog ini saya bermaksud untuk berbagi pemikiran mengenai masalah-masalah keluarga dan masalah-masalah filosofis dan teologis.
Senin, 30 Januari 2012
Kamis, 29 Desember 2011
Keluarga
Relasi Antara Mertua dan Menantu, Belajar dari Naomi dan Ruth
Stanislaus Nugroho
Pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya sangat dipengaruhi oleh relasi antar manusia, maka berbicara tentang relasi antar manusia sangat menarik dan mengasyikkan, begitu penuh dengan dinamika dan warna-warni kehidupan. Tidak heran tema relasi antar manusia juga menjadi perbincangan hangat dalam refleksi filsafat. Dalam sejarah filsafat abad 20 ada dua tokoh – sejauh saya kenal – yang berbicara tentang relasi antar manusia secara bertolak-belakang. Yang satu bernama Gabriel Marcel (1889-1973) dan yang yang lain bernama Jean-Paul Sartre (1905-1980). Bagi Gabriel Marcel relasi antar manusia ditandai dengan cinta. Oleh cinta maka antara aku dan kamu menjadi kita. Manusia mengutuh lewat intersubyektivitas. Sebaliknya bagi Sartre relasi antar manusia ditandai dengan konflik. Salah satu kata-kata Sartre yang sangat terkenal adalah Neraka adalah orang lain .
Berbicara tentang relasi antara mertua dan menantu, secara khusus antara mertua perempuan dan menantu perempuan – sejauh pengalaman di ruang konseling – maka sangat diwarnai oleh konflik. Salah satu contoh yang saya peroleh dalam ruang konseling adalah keluhan dari seorang ibu muda sebagai berikut ”.....mertua perempuan dan adik perempuan suami sering datang dan menginap di rumah. Awalnya saya senang, mereka banyak membantu dan menemani hari-hari saya mengasuh bayi dan melakukan pekerjaan rumah tangga .... 6 bulan berlalu, percikan-percikan di antara kami mulai menyala .... beberapa kali kami terlibat perdebatan pendapat. Hal ini pernah saya keluhkan kepada suami, tetapi suami mengatakan tidak perlu dibesar-besarkan, konflik itu hal yang biasa.....”. Memang konflik merupakan sesuatu yang biasa dalam hidup relasional, maka masalahnya adalah bagaimana kita dapat mengelola atau menanganinya dengan tepat. Di sini dibutuhkan suatu proses pembelajaran terus menerus lewat aksi dan refleksi. Sebagaimana sudah diajarkan oleh Sokrates (470-399) hidup itu harus direfleksikan.
Kasus-kasus sejenis sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari, se-olah-olah apa yang dipikirkan oleh Sartre adalah benar adanya, namun bila kita membaca kitab Ruth, khususnya pada bab 1, maka apa yang dipikirkan oleh Sartre tidaklah benar, orang lain bukan neraka bagi kita. Kita mungkin perlu belajar dari relasi yang dibangun antara Ruth (menantu perempuan) dan Naomi (mertua perempuan).
Tulisan ini merupakan hasil refleksi atas kitab Ruth, khususnya bab 1. Kitab Ruth merupakan sebuah cerita pendek (cerpen), terdiri dari 4 bab dengan 85 ayat. Isinya sangat menarik, enak dibaca, tersusun dengan cukup baik, ceritanya lancar dan mempesona, bila kita membacanya maka kita ingin segera menyelesaikannya. Maksud dari kitab ini jelas yaitu membina umat Allah dalam kaitan dengan keindahan cinta, kesetiaan dan pengabdian. Kehidupan yang dihiasi oleh cinta kasih, kesetiaan dan pengabdian – dalam arti selalu berusaha menomorsatukan orang-orang yang kita cintai – merupakan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu adalah indah. Dengan membaca kitab ini maka pembaca (sekurang-kurangnya saya pribadi) akan terhibur, muncullah harapan karena iman kepada Allah dipertebal, sebab Allah yang selalu siap menolong orang-orang yang terpinggirkan.
Kitab ini bercerita tentang seorang perempuan Yahudi yang bernama Naomi (yang berarti menyenangkan, lincah ) bersama suaminya serta kedua anak laki-lakinya terpaksa mengungsi ke luar negeri, ke suatu negeri yang bernama Moab. Pada masa pengungsian tersebut Naomi kehilangan suaminya dan kedua anaknya, mereka semua meninggal. Biarpun kedua anaknya sudah menikah namun tidak memiliki anak. Maka Naomi tinggal bersama kedua menantunya. Yang satu bernama Orfa dan yang lain bernama Ruth.
Waktu Naomi mendengar negara asalnya sudah tidak mengalami wabah kelaparan, maka Naomi memutuskan untuk kembali ke negara asalnya, ke kampung halamannya di Betlehem. Nah, mulailah sesuatu yang menarik, betapa tidak. Kita bisa mengikuti suatu pembicaraan yang berdaya-guna, suatu komunikasi yang produktif, suatu komunikasi antara subyek dengan subyek (suatu komunikasi intersubyektif) antara Naomi dan kedua menantunya. Biarpun pada akhirnya hanya Ruth yang memutuskan untuk tetap bersama mertuanya. Jawaban Ruth yang paling terkenal – khususnya untuk mereka yang pernah mengikuti week-end Marriage Encounter – “….. ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan” (Ruth, 1:16-17). Suatu bentuk ungkapan solidaritas yang luar biasa, solider kepada sesamanya, khususnya mertuanya yang sudah sendirian dan yang telah kehilangan semuanya, suami, anak-anak, harta.
Masalahnya bagaimana komunikasi bisa menjadi produktif, bagaimana komunikasi bisa menjadi intersubyektif, dan bukan komunikasi antara subyek dan ’obyek’. Untuk mampu menciptakan komunikasi intersubyektif sejauh saya bisa peroleh dari kisah antara Naomi dan kedua menantunya sekurang-kurangnya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Komunikator yang baik seharusnya mampu bersikap – saya ingin meminjam istilah Jawa – ’empan papan’ (= komunikator mampu ’menempatkan diri’ secara tepat dan memiliki motivasi yang positif dan berorientasi pada komunikan). Perhatikan pernyataan-pernyataan Naomi, pernyataannya mengacu kepada kebahagiaan dan kesejahteraan menantunya. Sebagai contoh saya kutip sebagian dari ayat 8-9 ”Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; Tuhan kiranya menunjukkan kasihNya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia Tuhan kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya”. Seorang komunikator yang dapat bersikap empan papan akan dapat menyentuh komunikan, sebagaimana menjadi nyata dalam ayat 9b-10 ’.......tetapi mereka menangis dengan suara keras dan berkata kepadanya ”Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu”.
2. Komunikan hendaknya mampu menyiapkan hati yang subur dan terbuka (= pendengar yang baik, mampu mendengarkan dengan hati), atau kalau meminjam istilah yang dipakai oleh Mateus dalam Injilnya bab 13: 1-23 khususnya ayat 8 komunikan mampu menyiapkan ’tanah yang baik’ atau dengan kata lain tanah yang subur, maka hasilnya ’ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tigapuluh kali lipat’. Perhatikan pernyataan Ruth sebagaimana dapat kita baca pada ayat 16-17a. Sikap solider yang ditunjukkan oleh Ruth membuahkan rahmat yang berlimpah baginya, Ruth menjadi nenek moyang dari Yesus sang Mesias, namanya tercantum dalam silsilah Yesus Kristus sebagaimana dicatat oleh Mateus dalam Injilnya bab 1 ayat 5b.
Apa yang kita temukan dalam kisah Ruth merupakan sesuatu yang sangat relevan dewasa ini. Lewat bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Families (1997) Stephen R. Covey menguraikannya pada kebiasaan yang ke lima (halaman 201-246) yang berjudul ‘Seek first to understand ….. then to be understood’ (berusahalah untuk memahami dulu ….. baru kemudian dipahami). Covey mengawali uraiannya dengan mengutip apa yang dikatakan oleh se ekor rubah dalam cerita klasik yang berjudul The Little Prince: ’and now here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye’ (…. inilah rahasiaku, suatu rahasia yang sangat sederhana: hanya dengan hatilah seseorang dapat melihat dengan tepat – apa yang tidak dapat dilihat oleh mata – sesuatu yang hakiki).
Dengan demikian menjadi jelas bahwa konflik atau kesalahpahaman memang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehidupan bersama, hal ini merupakan konsekuensi dari keunikan setiap pribadi, ditambah dengan latar belakang yang berbeda-beda entah itu budaya, pendidikan, pemikiran, minat dan lain-lain. Lebih-lebih dalam keluarga, karena biasanya kita sudah terjebak pada pengandaian bahwa pasanganku, mertuaku, saudara iparku mencintaiku, maka mereka pasti bisa memahami aku. Pengandaian ini seringkali menjerumuskan, maka apa yang dikatakan oleh Covey menjadi suatu nasehat yang perlu diingat bahwa kita harus mulai dengan ’memahami orang lain dulu dan baru kita dipahami’, atau dengan kata lain kita selalu harus bersikap empan papan.
Masalahnya bagaimana kita bisa memiliki sikap empan papan dan mampu memiliki hati yang subur dan terbuka? Dari pengalaman: sikap empan papan dan hati yang subur dan terbuka dapat dibangun dengan selalu berusaha untuk mengenal diri sendiri sebaik mungkin, dan kemudian berani menerima diri sendiri apa adanya (bukan dalam arti pasrah pasif, namun justru pasrah aktif: menerima adanya kelemahan-kelemahan namun berusaha mengurangi sedikit demi sedikit, di lain pihak bersyukur akan kekuatan-kekuatan yang dimiliki serta berusaha untuk menumbuhkembangkanNya ). Jika kita bisa mengenal diri sendiri sebaik mungkin dan mampu menerima diri sendiri apa adanya maka kita menjadi bahagia, salah satu aspek kecil dari kebahagiaan tidak lain bahwa kita bisa menempatkan posisi diri kita pada tempat dan waktu yang tepat, karenanya kita diterima oleh yang lain.
Jelaslah ini bukan masalah mudah – kalau tidak mau mengatakan sangat sulit – maka kita tidak pernah boleh berhenti melakukan pembelajaran – dalam arti melakukan proses aksi dan refleksi kehidupan kita.
Bogor, 29 Desember 2011
Stanislaus Nugroho
Pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya sangat dipengaruhi oleh relasi antar manusia, maka berbicara tentang relasi antar manusia sangat menarik dan mengasyikkan, begitu penuh dengan dinamika dan warna-warni kehidupan. Tidak heran tema relasi antar manusia juga menjadi perbincangan hangat dalam refleksi filsafat. Dalam sejarah filsafat abad 20 ada dua tokoh – sejauh saya kenal – yang berbicara tentang relasi antar manusia secara bertolak-belakang. Yang satu bernama Gabriel Marcel (1889-1973) dan yang yang lain bernama Jean-Paul Sartre (1905-1980). Bagi Gabriel Marcel relasi antar manusia ditandai dengan cinta. Oleh cinta maka antara aku dan kamu menjadi kita. Manusia mengutuh lewat intersubyektivitas. Sebaliknya bagi Sartre relasi antar manusia ditandai dengan konflik. Salah satu kata-kata Sartre yang sangat terkenal adalah Neraka adalah orang lain .
Berbicara tentang relasi antara mertua dan menantu, secara khusus antara mertua perempuan dan menantu perempuan – sejauh pengalaman di ruang konseling – maka sangat diwarnai oleh konflik. Salah satu contoh yang saya peroleh dalam ruang konseling adalah keluhan dari seorang ibu muda sebagai berikut ”.....mertua perempuan dan adik perempuan suami sering datang dan menginap di rumah. Awalnya saya senang, mereka banyak membantu dan menemani hari-hari saya mengasuh bayi dan melakukan pekerjaan rumah tangga .... 6 bulan berlalu, percikan-percikan di antara kami mulai menyala .... beberapa kali kami terlibat perdebatan pendapat. Hal ini pernah saya keluhkan kepada suami, tetapi suami mengatakan tidak perlu dibesar-besarkan, konflik itu hal yang biasa.....”. Memang konflik merupakan sesuatu yang biasa dalam hidup relasional, maka masalahnya adalah bagaimana kita dapat mengelola atau menanganinya dengan tepat. Di sini dibutuhkan suatu proses pembelajaran terus menerus lewat aksi dan refleksi. Sebagaimana sudah diajarkan oleh Sokrates (470-399) hidup itu harus direfleksikan.
Kasus-kasus sejenis sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari, se-olah-olah apa yang dipikirkan oleh Sartre adalah benar adanya, namun bila kita membaca kitab Ruth, khususnya pada bab 1, maka apa yang dipikirkan oleh Sartre tidaklah benar, orang lain bukan neraka bagi kita. Kita mungkin perlu belajar dari relasi yang dibangun antara Ruth (menantu perempuan) dan Naomi (mertua perempuan).
Tulisan ini merupakan hasil refleksi atas kitab Ruth, khususnya bab 1. Kitab Ruth merupakan sebuah cerita pendek (cerpen), terdiri dari 4 bab dengan 85 ayat. Isinya sangat menarik, enak dibaca, tersusun dengan cukup baik, ceritanya lancar dan mempesona, bila kita membacanya maka kita ingin segera menyelesaikannya. Maksud dari kitab ini jelas yaitu membina umat Allah dalam kaitan dengan keindahan cinta, kesetiaan dan pengabdian. Kehidupan yang dihiasi oleh cinta kasih, kesetiaan dan pengabdian – dalam arti selalu berusaha menomorsatukan orang-orang yang kita cintai – merupakan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu adalah indah. Dengan membaca kitab ini maka pembaca (sekurang-kurangnya saya pribadi) akan terhibur, muncullah harapan karena iman kepada Allah dipertebal, sebab Allah yang selalu siap menolong orang-orang yang terpinggirkan.
Kitab ini bercerita tentang seorang perempuan Yahudi yang bernama Naomi (yang berarti menyenangkan, lincah ) bersama suaminya serta kedua anak laki-lakinya terpaksa mengungsi ke luar negeri, ke suatu negeri yang bernama Moab. Pada masa pengungsian tersebut Naomi kehilangan suaminya dan kedua anaknya, mereka semua meninggal. Biarpun kedua anaknya sudah menikah namun tidak memiliki anak. Maka Naomi tinggal bersama kedua menantunya. Yang satu bernama Orfa dan yang lain bernama Ruth.
Waktu Naomi mendengar negara asalnya sudah tidak mengalami wabah kelaparan, maka Naomi memutuskan untuk kembali ke negara asalnya, ke kampung halamannya di Betlehem. Nah, mulailah sesuatu yang menarik, betapa tidak. Kita bisa mengikuti suatu pembicaraan yang berdaya-guna, suatu komunikasi yang produktif, suatu komunikasi antara subyek dengan subyek (suatu komunikasi intersubyektif) antara Naomi dan kedua menantunya. Biarpun pada akhirnya hanya Ruth yang memutuskan untuk tetap bersama mertuanya. Jawaban Ruth yang paling terkenal – khususnya untuk mereka yang pernah mengikuti week-end Marriage Encounter – “….. ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan” (Ruth, 1:16-17). Suatu bentuk ungkapan solidaritas yang luar biasa, solider kepada sesamanya, khususnya mertuanya yang sudah sendirian dan yang telah kehilangan semuanya, suami, anak-anak, harta.
Masalahnya bagaimana komunikasi bisa menjadi produktif, bagaimana komunikasi bisa menjadi intersubyektif, dan bukan komunikasi antara subyek dan ’obyek’. Untuk mampu menciptakan komunikasi intersubyektif sejauh saya bisa peroleh dari kisah antara Naomi dan kedua menantunya sekurang-kurangnya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Komunikator yang baik seharusnya mampu bersikap – saya ingin meminjam istilah Jawa – ’empan papan’ (= komunikator mampu ’menempatkan diri’ secara tepat dan memiliki motivasi yang positif dan berorientasi pada komunikan). Perhatikan pernyataan-pernyataan Naomi, pernyataannya mengacu kepada kebahagiaan dan kesejahteraan menantunya. Sebagai contoh saya kutip sebagian dari ayat 8-9 ”Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; Tuhan kiranya menunjukkan kasihNya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia Tuhan kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya”. Seorang komunikator yang dapat bersikap empan papan akan dapat menyentuh komunikan, sebagaimana menjadi nyata dalam ayat 9b-10 ’.......tetapi mereka menangis dengan suara keras dan berkata kepadanya ”Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu”.
2. Komunikan hendaknya mampu menyiapkan hati yang subur dan terbuka (= pendengar yang baik, mampu mendengarkan dengan hati), atau kalau meminjam istilah yang dipakai oleh Mateus dalam Injilnya bab 13: 1-23 khususnya ayat 8 komunikan mampu menyiapkan ’tanah yang baik’ atau dengan kata lain tanah yang subur, maka hasilnya ’ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tigapuluh kali lipat’. Perhatikan pernyataan Ruth sebagaimana dapat kita baca pada ayat 16-17a. Sikap solider yang ditunjukkan oleh Ruth membuahkan rahmat yang berlimpah baginya, Ruth menjadi nenek moyang dari Yesus sang Mesias, namanya tercantum dalam silsilah Yesus Kristus sebagaimana dicatat oleh Mateus dalam Injilnya bab 1 ayat 5b.
Apa yang kita temukan dalam kisah Ruth merupakan sesuatu yang sangat relevan dewasa ini. Lewat bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Families (1997) Stephen R. Covey menguraikannya pada kebiasaan yang ke lima (halaman 201-246) yang berjudul ‘Seek first to understand ….. then to be understood’ (berusahalah untuk memahami dulu ….. baru kemudian dipahami). Covey mengawali uraiannya dengan mengutip apa yang dikatakan oleh se ekor rubah dalam cerita klasik yang berjudul The Little Prince: ’and now here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye’ (…. inilah rahasiaku, suatu rahasia yang sangat sederhana: hanya dengan hatilah seseorang dapat melihat dengan tepat – apa yang tidak dapat dilihat oleh mata – sesuatu yang hakiki).
Dengan demikian menjadi jelas bahwa konflik atau kesalahpahaman memang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehidupan bersama, hal ini merupakan konsekuensi dari keunikan setiap pribadi, ditambah dengan latar belakang yang berbeda-beda entah itu budaya, pendidikan, pemikiran, minat dan lain-lain. Lebih-lebih dalam keluarga, karena biasanya kita sudah terjebak pada pengandaian bahwa pasanganku, mertuaku, saudara iparku mencintaiku, maka mereka pasti bisa memahami aku. Pengandaian ini seringkali menjerumuskan, maka apa yang dikatakan oleh Covey menjadi suatu nasehat yang perlu diingat bahwa kita harus mulai dengan ’memahami orang lain dulu dan baru kita dipahami’, atau dengan kata lain kita selalu harus bersikap empan papan.
Masalahnya bagaimana kita bisa memiliki sikap empan papan dan mampu memiliki hati yang subur dan terbuka? Dari pengalaman: sikap empan papan dan hati yang subur dan terbuka dapat dibangun dengan selalu berusaha untuk mengenal diri sendiri sebaik mungkin, dan kemudian berani menerima diri sendiri apa adanya (bukan dalam arti pasrah pasif, namun justru pasrah aktif: menerima adanya kelemahan-kelemahan namun berusaha mengurangi sedikit demi sedikit, di lain pihak bersyukur akan kekuatan-kekuatan yang dimiliki serta berusaha untuk menumbuhkembangkanNya ). Jika kita bisa mengenal diri sendiri sebaik mungkin dan mampu menerima diri sendiri apa adanya maka kita menjadi bahagia, salah satu aspek kecil dari kebahagiaan tidak lain bahwa kita bisa menempatkan posisi diri kita pada tempat dan waktu yang tepat, karenanya kita diterima oleh yang lain.
Jelaslah ini bukan masalah mudah – kalau tidak mau mengatakan sangat sulit – maka kita tidak pernah boleh berhenti melakukan pembelajaran – dalam arti melakukan proses aksi dan refleksi kehidupan kita.
Bogor, 29 Desember 2011
Selasa, 29 November 2011
keluarga
Keluarga: salah satu jalan menuju ke kesucian
Stanislaus Nugroho
Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (selanjutnya akan digunakan singkatan LG) art. 40 menyatakan bahwa ”..... semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih”. Atau dengan kata lain semua orang kristiani dipanggil untuk menjadi suci. Menjadi suci berarti suatu proses menjadi ”sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mt.5:48).
Dalam kehidupan Gereja Katolik dikenal apa yang disebut klerikus, maksudnya para pelayan suci (para uskup, para pastor dan para diakon) dan kaum awam (yang merupakan bagian terbesar anggota Gereja Katolik). Kaum awam sendiri terdiri dari mereka yang berkeluarga dan mereka yang memilih menjadi anggota dari tarekat-tarekat hidup-bakti. Tulisan ini akan memfokuskan diri pada ”keluarga sebagai salah satu jalan menuju ke kesucian”.
Pada suratnya kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus menulis dalam konteks kehidupan suami isteri, sebagai berikut: ”......Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya untuk menguduskannya, .....” (5:25-26). Dengan demikian kesucian merupakan sesuatu yang hakiki dari hidup Gereja. Sebagaimana dikatakan oleh Konsili Vatikan II ”..... Gereja ditandai kesucian yang sesungguhnya meskipun tidak sempurna.” (LG art. 48). Atau dengan perkataan lain ”..... Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).
Dalam konteks keluarga proses menjadi suci merupakan hasil – salah satunya – dari interaksi antar anggota keluarga, yang diawali dengan seorang laki-laki dan perempuan yang sepakat untuk membangun keluarga baru. Waktu saya masih aktif ’menjadi fasilitator di kursus persiapan perkawinan’ maka saya tidak pernah lupa bertanya kepada calon pengantin, ’apa tujuan anda berdua menikah?’, pada umumnya jawaban mereka selalu ’ingin punya anak’. Jawaban tersebut tidak sama sekali salah, karena sebagaimana kita temukan pada halaman-halaman pertama Kitab Kejadian ada tertulis ’Beranak cucuclah dan bertambah banyak; ....” (Kej. 1:28).
Kemudian pertanyaan saya lanjutkan dengan ’Mengapa Tuhan Yesus tidak mengutip ayat tersebut, tetapi mengutip yang tertulis di Kej. 2:24 ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (lihat Mt. 19:4 dan Mk. 10:7). Jawaban pada umumnya ”Tidak tahu”. Saya pikir bagi Yesus tujuan perkawinan pertama-tama adalah ’menjadi satu daging’ atau dengan kata lain menjadi sejoli, akibat kesejolian kita salah satunya adalah mempunyai anak. Sebagai pengikut dan murid Tuhan Yesus maka kita harus mengamini dan menghayati pandangan Yesus tersebut. Itulah rencana Allah yang harus kita realisasikan.
Apa artinya menjadi sejoli? Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ”garwa” atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai belahan jiwa. Istilah garwa atau belahan jiwa mungkin merupakan penjelasan yang tepat untuk memaknai istilah ’sejoli’. Tapi apakah itu mungkin? Dalam psikologi dikatakan bahwa setiap manusia itu unik, tidak ada duanya. Berarti setiap manusia berbeda, tidak ada yang sama, lebih-lebih antara laki-laki dan perempuan. Apakah bila berbeda tidak mungkin terjadi kesejolian? Yang penting jangan mengartikan kesejolian sebagai kesamaan. Itulah sebabnya – saya pikir – Kitab Suci menggunakan istilah ’menjadi satu daging’. Kesejolian harus dimengerti sebagai saling melengkapi (= komplementer) karena tidak ada manusia yang sempurna. Maka kita sebenarnya harus bersyukur bahwa setiap manusia itu unik, karena lewat relasi yang berdayaguna kita akan menjadi semakin diperkaya dan dapat bertumbuhkembang bersama menjadi pribadi yang semakin mengutuh. Sekarang banyak digunakan istilah’ pasangan suami isteri’ untuk menterjemahkan istilah ’marriage couple’, dan terjemahan itu saya pikir sangat tepat. Menjadi sejoli tidak lain berarti menjadi pasangan suami isteri. Dengan demikian menjadi jelas bahwa ’menjadi pasangan suami isteri’ tidak lain berarti suatu proses, suatu perjalanan panjang yang sangat menantang. Wedding atau pesta nikah itu tidak lain merupakan titik awal perjalanan sebagai pasangan.
Sedang marriage tidak lain berarti suatu perjalanan bersama untuk merealisasikan impian mereka waktu pacaran yang seharusnya sesuai dengan rencana Allah yang sebagaimana kita imani. Maka sering kita perlu melakukan pemurnian terus menerus dalam usaha menjadi pasangan suami isteri. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi memberi nasehat yang sangat bagus – maka perlu kita camkan dalam-dalam dalam hati kita. Nasehatnya berbunyi sebagai berikut ”.....hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Fil. 2:2-4). Hal ini bisa kita realisasikan bila pasangan-pasangan suami isteri dari awal perkawinannya berusaha keras membangun ’budaya keluarga’ lewat dialog. Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) merumuskan apa yang dimaksudnya dengan budaya keluarga sebagai berikut “Kalau saya berkata budaya, yang saya maksud adalah jiwa keluarga itu – perasaannya, getarannya, proses kimianya, iklim atau suasananya di rumah. Ini adalah karakter dari keluarga – kedalaman, kualitas dan kedewasaan dari hubungan-hubungannya”. Dengan perkataan lain, budaya keluarga merupakan kebiasaan-kebiasaan positif yang mewarnai keluarga yang bersangkutan, selain itu budaya keluarga juga merupakan komitmen-komitmen yang disepakati oleh seluruh anggota keluarga dalam mengelola keluarga tersebut untuk merealisasikan impian-impiannya. Dialog bukan sekadar diskusi, bukan tawar menawar, dialog merupakan komunikasi hati.
Apa yang dimaksud komunikasi hati? Komunikasi yang positif dan asertif (= tegas tapi tidak menyakitkan) karena berlandaskan kasih (kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ......., 1 Kor.13: 4-7). Hal ini tidaklah mudah, perlu banyak latihan, dan perlu ketekunan. Namun, jangan kawatir, pasangan suami isteri katolik telah diteguhkan dengan sakramen perkawinan, lewat peneguhan tersebut maka pasangan suami isteri katolik telah memperoleh rahmat, pasangan suami isteri katolik telah dikuatkan, mereka telah memperoleh ’kekuatan sebagai pasangan’ (couple power). Maka perlu tetap berusaha keras membangun ’budaya keluarga’ sambil tetap berdoa mohon rahmat. ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di-tengah-tengah mereka” (Mt. 18:20).
Perjalanan panjang pasangan suami isteri itu menuju ke mana? Beato Yohanes Paulus II – dalam Familiaris Consortio (1981) memberikan 4 tujuan umum, artinya semua pasangan suami isteri katolik, harus berusaha keras mencapai ke empat tujuan tersebut. Ke empat tujuan itu meliputi:
1) membentuk persekutuan pribadi;
2) mengabdi kepada kehidupan;
3) ikut serta dalam pengembangan masyarakat, dan
4) berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja.
Ke empat tujuan tersebut amat relavan, di mana keluarga saat ini sedang mengalami tantangan yang sangat berat.
Anthony Giddens – seorang sosiolog dunia – dalam bukunya yang berjudul Runaway World (1999) merumuskan tantangan tersebut sebagai berikut ”Di antara semua perubahan yang berlangsung di dunia, tidak ada yang lebih penting daripada yang terjadi dalam kehidupan pribadi kita – dalam seksualitas, hubungan pribadi, perkawinan, dan keluarga. Ada sebuah revolusi global yang tengah berlangsung mengenai bagaimana kita memahami diri kita sendiri dan bagaimana kita membangun ikatan dan hubungan dengan orang lain. Inilah revolusi yang merebak dalam takaran yang berbeda-beda di berbagai wilayah dan budaya, dengan banyak perlawanan terhadapnya”.
Membentuk keluarga sebagai persekutuan pribadi merupakan suatu tugas yang sangat peting, mengingat keluarga merupakan ’benteng yang pertama dan yang terakhir’ bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, seperti kasih, keadilan, kepedulian, kedamaian, penghargaan, kebahagiaan, kebebasan, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kerjasama, tanggungjawab, kesederhanaan, persatuan, dan lain-lain.
Dewasa ini salah satu tantangan yang ada di depan kita adalah munculnya ’budaya kekerasan dan budaya kematian’, penghargaan pada martabat manusia telah mengikis, hidup manusia telah dilecehkan dan direndahkan, hari minggu yang lalu (25 September 2011) ada bom diri, di mana sasarannya adalah tempat ibadat yang sedang penuh dengan jemaat. Maka membangun keluarga yang ’mengabdi kepada kehidupan’ menjadi sangat relevan.
Salah satu tantangan lain yang dewasa ini ada di sekitar kita adalah kemiskinan, kemiskinan membuat sesama kita tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Maka membangun keluarga yang peduli dan mau ikut ambil bagian dalam pengembangan masyarakat, khususnya mereka yang terpinggirkan, merupakan sesuatu yang sangat mulia.
Sebagai orang kristiani (katolik) maka kita dipanggil untuk menjadi ’saksi karya keselamatan Allah’. Konsili Vatikan II lewat Dekrit tentang Kerasulan Awam (art 2) menyatakan sebagai berikut ”Sebab panggilan kristiani menurut hakekatnya merupakan panggilan untuk merasul juga. Seperti dalam tata-susunan tubuh yang hidup tidak satupun anggota bersifat pasif melulu, melainkan beserta kehidupan tubuh juga ikut menjalankan kegiatannya, begitu pula dalam tubuh Kristus, yakni Gereja, seluruh tubuh ’menurut kadar pekerjaan masing-masing anggotanya mengembangkan tubuh’ (Ef.4:16)”.
Itulah panggilan kita sebagai pasangan suami isteri dan para anggota dari keluarga tersebut. Memang seperti dikatakan oleh Beato Yohanes Paulus II, tujuan yang harus dicapai adalah suatu tujuan umum, artinya bagi semua orang katolik yang berkeluarga. Dalam usaha untuk merealisasikannya tentu harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga kita masing-masing. Dalam manajemen dikenal istilah smart, merupakan singkatan dari kata specific, measurable, realistic and time. Dengan kata lain tujuan umum tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga kita masing-masing.
Akhirnya bila ini semua sudah kita jalani dengan konsisten, maka saya pikir kita telah menempuh jalan Tuhan, dan dengan demikian kita akan sampai pada tujuan akhir kita yaitu bersatu dalam komunitas kudus di sorga. Mari kita bergandengan tangan berjalan bersama untuk memenuhi panggilan kita sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing, dan tentunya jangan lupa untuk ’berdoa sebagai keluarga’.
Bogor, 27 September 2011
Stanislaus Nugroho
Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (selanjutnya akan digunakan singkatan LG) art. 40 menyatakan bahwa ”..... semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih”. Atau dengan kata lain semua orang kristiani dipanggil untuk menjadi suci. Menjadi suci berarti suatu proses menjadi ”sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mt.5:48).
Dalam kehidupan Gereja Katolik dikenal apa yang disebut klerikus, maksudnya para pelayan suci (para uskup, para pastor dan para diakon) dan kaum awam (yang merupakan bagian terbesar anggota Gereja Katolik). Kaum awam sendiri terdiri dari mereka yang berkeluarga dan mereka yang memilih menjadi anggota dari tarekat-tarekat hidup-bakti. Tulisan ini akan memfokuskan diri pada ”keluarga sebagai salah satu jalan menuju ke kesucian”.
Pada suratnya kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus menulis dalam konteks kehidupan suami isteri, sebagai berikut: ”......Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya untuk menguduskannya, .....” (5:25-26). Dengan demikian kesucian merupakan sesuatu yang hakiki dari hidup Gereja. Sebagaimana dikatakan oleh Konsili Vatikan II ”..... Gereja ditandai kesucian yang sesungguhnya meskipun tidak sempurna.” (LG art. 48). Atau dengan perkataan lain ”..... Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).
Dalam konteks keluarga proses menjadi suci merupakan hasil – salah satunya – dari interaksi antar anggota keluarga, yang diawali dengan seorang laki-laki dan perempuan yang sepakat untuk membangun keluarga baru. Waktu saya masih aktif ’menjadi fasilitator di kursus persiapan perkawinan’ maka saya tidak pernah lupa bertanya kepada calon pengantin, ’apa tujuan anda berdua menikah?’, pada umumnya jawaban mereka selalu ’ingin punya anak’. Jawaban tersebut tidak sama sekali salah, karena sebagaimana kita temukan pada halaman-halaman pertama Kitab Kejadian ada tertulis ’Beranak cucuclah dan bertambah banyak; ....” (Kej. 1:28).
Kemudian pertanyaan saya lanjutkan dengan ’Mengapa Tuhan Yesus tidak mengutip ayat tersebut, tetapi mengutip yang tertulis di Kej. 2:24 ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (lihat Mt. 19:4 dan Mk. 10:7). Jawaban pada umumnya ”Tidak tahu”. Saya pikir bagi Yesus tujuan perkawinan pertama-tama adalah ’menjadi satu daging’ atau dengan kata lain menjadi sejoli, akibat kesejolian kita salah satunya adalah mempunyai anak. Sebagai pengikut dan murid Tuhan Yesus maka kita harus mengamini dan menghayati pandangan Yesus tersebut. Itulah rencana Allah yang harus kita realisasikan.
Apa artinya menjadi sejoli? Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ”garwa” atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai belahan jiwa. Istilah garwa atau belahan jiwa mungkin merupakan penjelasan yang tepat untuk memaknai istilah ’sejoli’. Tapi apakah itu mungkin? Dalam psikologi dikatakan bahwa setiap manusia itu unik, tidak ada duanya. Berarti setiap manusia berbeda, tidak ada yang sama, lebih-lebih antara laki-laki dan perempuan. Apakah bila berbeda tidak mungkin terjadi kesejolian? Yang penting jangan mengartikan kesejolian sebagai kesamaan. Itulah sebabnya – saya pikir – Kitab Suci menggunakan istilah ’menjadi satu daging’. Kesejolian harus dimengerti sebagai saling melengkapi (= komplementer) karena tidak ada manusia yang sempurna. Maka kita sebenarnya harus bersyukur bahwa setiap manusia itu unik, karena lewat relasi yang berdayaguna kita akan menjadi semakin diperkaya dan dapat bertumbuhkembang bersama menjadi pribadi yang semakin mengutuh. Sekarang banyak digunakan istilah’ pasangan suami isteri’ untuk menterjemahkan istilah ’marriage couple’, dan terjemahan itu saya pikir sangat tepat. Menjadi sejoli tidak lain berarti menjadi pasangan suami isteri. Dengan demikian menjadi jelas bahwa ’menjadi pasangan suami isteri’ tidak lain berarti suatu proses, suatu perjalanan panjang yang sangat menantang. Wedding atau pesta nikah itu tidak lain merupakan titik awal perjalanan sebagai pasangan.
Sedang marriage tidak lain berarti suatu perjalanan bersama untuk merealisasikan impian mereka waktu pacaran yang seharusnya sesuai dengan rencana Allah yang sebagaimana kita imani. Maka sering kita perlu melakukan pemurnian terus menerus dalam usaha menjadi pasangan suami isteri. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi memberi nasehat yang sangat bagus – maka perlu kita camkan dalam-dalam dalam hati kita. Nasehatnya berbunyi sebagai berikut ”.....hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Fil. 2:2-4). Hal ini bisa kita realisasikan bila pasangan-pasangan suami isteri dari awal perkawinannya berusaha keras membangun ’budaya keluarga’ lewat dialog. Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) merumuskan apa yang dimaksudnya dengan budaya keluarga sebagai berikut “Kalau saya berkata budaya, yang saya maksud adalah jiwa keluarga itu – perasaannya, getarannya, proses kimianya, iklim atau suasananya di rumah. Ini adalah karakter dari keluarga – kedalaman, kualitas dan kedewasaan dari hubungan-hubungannya”. Dengan perkataan lain, budaya keluarga merupakan kebiasaan-kebiasaan positif yang mewarnai keluarga yang bersangkutan, selain itu budaya keluarga juga merupakan komitmen-komitmen yang disepakati oleh seluruh anggota keluarga dalam mengelola keluarga tersebut untuk merealisasikan impian-impiannya. Dialog bukan sekadar diskusi, bukan tawar menawar, dialog merupakan komunikasi hati.
Apa yang dimaksud komunikasi hati? Komunikasi yang positif dan asertif (= tegas tapi tidak menyakitkan) karena berlandaskan kasih (kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ......., 1 Kor.13: 4-7). Hal ini tidaklah mudah, perlu banyak latihan, dan perlu ketekunan. Namun, jangan kawatir, pasangan suami isteri katolik telah diteguhkan dengan sakramen perkawinan, lewat peneguhan tersebut maka pasangan suami isteri katolik telah memperoleh rahmat, pasangan suami isteri katolik telah dikuatkan, mereka telah memperoleh ’kekuatan sebagai pasangan’ (couple power). Maka perlu tetap berusaha keras membangun ’budaya keluarga’ sambil tetap berdoa mohon rahmat. ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di-tengah-tengah mereka” (Mt. 18:20).
Perjalanan panjang pasangan suami isteri itu menuju ke mana? Beato Yohanes Paulus II – dalam Familiaris Consortio (1981) memberikan 4 tujuan umum, artinya semua pasangan suami isteri katolik, harus berusaha keras mencapai ke empat tujuan tersebut. Ke empat tujuan itu meliputi:
1) membentuk persekutuan pribadi;
2) mengabdi kepada kehidupan;
3) ikut serta dalam pengembangan masyarakat, dan
4) berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja.
Ke empat tujuan tersebut amat relavan, di mana keluarga saat ini sedang mengalami tantangan yang sangat berat.
Anthony Giddens – seorang sosiolog dunia – dalam bukunya yang berjudul Runaway World (1999) merumuskan tantangan tersebut sebagai berikut ”Di antara semua perubahan yang berlangsung di dunia, tidak ada yang lebih penting daripada yang terjadi dalam kehidupan pribadi kita – dalam seksualitas, hubungan pribadi, perkawinan, dan keluarga. Ada sebuah revolusi global yang tengah berlangsung mengenai bagaimana kita memahami diri kita sendiri dan bagaimana kita membangun ikatan dan hubungan dengan orang lain. Inilah revolusi yang merebak dalam takaran yang berbeda-beda di berbagai wilayah dan budaya, dengan banyak perlawanan terhadapnya”.
Membentuk keluarga sebagai persekutuan pribadi merupakan suatu tugas yang sangat peting, mengingat keluarga merupakan ’benteng yang pertama dan yang terakhir’ bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, seperti kasih, keadilan, kepedulian, kedamaian, penghargaan, kebahagiaan, kebebasan, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kerjasama, tanggungjawab, kesederhanaan, persatuan, dan lain-lain.
Dewasa ini salah satu tantangan yang ada di depan kita adalah munculnya ’budaya kekerasan dan budaya kematian’, penghargaan pada martabat manusia telah mengikis, hidup manusia telah dilecehkan dan direndahkan, hari minggu yang lalu (25 September 2011) ada bom diri, di mana sasarannya adalah tempat ibadat yang sedang penuh dengan jemaat. Maka membangun keluarga yang ’mengabdi kepada kehidupan’ menjadi sangat relevan.
Salah satu tantangan lain yang dewasa ini ada di sekitar kita adalah kemiskinan, kemiskinan membuat sesama kita tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Maka membangun keluarga yang peduli dan mau ikut ambil bagian dalam pengembangan masyarakat, khususnya mereka yang terpinggirkan, merupakan sesuatu yang sangat mulia.
Sebagai orang kristiani (katolik) maka kita dipanggil untuk menjadi ’saksi karya keselamatan Allah’. Konsili Vatikan II lewat Dekrit tentang Kerasulan Awam (art 2) menyatakan sebagai berikut ”Sebab panggilan kristiani menurut hakekatnya merupakan panggilan untuk merasul juga. Seperti dalam tata-susunan tubuh yang hidup tidak satupun anggota bersifat pasif melulu, melainkan beserta kehidupan tubuh juga ikut menjalankan kegiatannya, begitu pula dalam tubuh Kristus, yakni Gereja, seluruh tubuh ’menurut kadar pekerjaan masing-masing anggotanya mengembangkan tubuh’ (Ef.4:16)”.
Itulah panggilan kita sebagai pasangan suami isteri dan para anggota dari keluarga tersebut. Memang seperti dikatakan oleh Beato Yohanes Paulus II, tujuan yang harus dicapai adalah suatu tujuan umum, artinya bagi semua orang katolik yang berkeluarga. Dalam usaha untuk merealisasikannya tentu harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga kita masing-masing. Dalam manajemen dikenal istilah smart, merupakan singkatan dari kata specific, measurable, realistic and time. Dengan kata lain tujuan umum tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga kita masing-masing.
Akhirnya bila ini semua sudah kita jalani dengan konsisten, maka saya pikir kita telah menempuh jalan Tuhan, dan dengan demikian kita akan sampai pada tujuan akhir kita yaitu bersatu dalam komunitas kudus di sorga. Mari kita bergandengan tangan berjalan bersama untuk memenuhi panggilan kita sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing, dan tentunya jangan lupa untuk ’berdoa sebagai keluarga’.
Bogor, 27 September 2011
Sabtu, 22 Oktober 2011
refleksi ttg harapan
Pengharapan Kristiani, ungkapan penantian yang indah dan menantang, belajar dari Abraham
Stanislaus Nugroho
”....... ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus dihadapan Allah dan Bapa kita” (1Tes.1:3).
Dewasa ini banyak orang – sejauh kita mengikuti media massa, entah itu TV, surat kabar – mengeluh bahwa hidup menjadi semakin sulit, biaya hidup semakin tinggi. Maka tidak heran fenomena ’mengakhiri hidup sebelum waktunya’ (= bunuh diri) semakin banyak. Kemarin siang, 21 Oktober 2011 saya mendengar berita di Metro TV ada seorang laki-laki yang ditinggal oleh pasangannya bekerja sebagai TKW di luar negeri bunuh diri bersama anak bayinya.
Salah satu alasannya tidak lain adalah ’kemiskinan’, memang kemiskinan merupakan salah satu penyakit sosial yang bertentangan dengan martabat manusia, mereka menjadi putus harapan atau putus asa akan masa depannya. Mengapa seorang manusia bisa putus asa, kehilangan pengharapan?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kita dapat menemukan penjelasan tentang ’pengharapan sebagai harapan’, sedang harapan sendiri dijelaskan sebagai: (1) sesuatu yang (dapat) diharapkan; (2) keinginan supaya menjadi kenyataan; (3) orang yang diharapkan atau dipercaya. Dengan demikian pengharapan atau harapan berkaitan dengan masa depan, berkaitan dengan sesuatu yang belum menjadi fakta, berkaitan dengan sesuatu yang kita nantikan kenyataannya.
Dalam kaitan dengan pengharapan, apa bedanya dengan optimisme. John Macquarrie tidak menyamakan antara pengharapan dan optimisme. Bagi John Macquarrie, optimisme merupakan suatu sikap percaya akan masa depan dengan alasan dan perhitungan yang pasti, sedang pengharapan merupakan suatu keutamaan teologis dan berkaitan dengan kehidupan religius. Di samping itu ada dua keutamaan teologis yang lain, yaitu: iman dan kasih.Berkaitan dengan itu maka St. Thomas Aquinas merumuskannya sebagai berikut: ”Pengharapan merupakan suatu keutamaan. Disebut sebagai pengharapan sejauh memiliki Allah sebagai tujuan masa depannya dan dengan tekun dapat dicapainya dengan bantuan Allah” . Selanjutnya St. Thomas Aquinas menulis ”Pengharapan mengarah kepada Tuhan sebagai prinsip kebaikan sempurna dalam kita. Tujuan pengharapan ialah tercapainya kebaikan sempurna” . Dengan demikian pengharapan berciri eskatologis, mengacu pada masa depan, jaitu: akhir Jaman. Salah satu kritik Karl Marx berkaitan dengan soal ini, ’agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Keterasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri” .
Pengharapan mengandaikan adanya keutamaan iman akan adanya Penjamin yang bisa dipercaya. Tapi bagaimana itu harus kita mengerti, agar dengan demikian kita dapat menghayatinya dengan tepat, agar kita tidak terkena kritik Karl Marx tersebut di atas. Untuk itu maka marilah kita belajar dari seorang tokoh perjanjian lama yang bernama Abraham, yang awalnya bernama Abram , yang kita kenal sebagai ’bapak orang-orang beriman’.
Kisah tentang Abram (Abraham) merupakan kisah seorang beriman dan sekaligus berpengharapan, dapat kita baca dan renungkan pada Kej.11:26 – 25:18. suatu kisah yang inspiratif dan menantang. Bila kita telah membaca dan merenungkan kisah tersebut di atas maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang beriman dan berpengharapan merupakan kisah orang yang mampu ’melampaui’ dirinya sendiri, artinya mampu melepaskan perhitungan-perhitungan manusiawi, dan mampu berpasrah diri pada penyelenggaraan ilahi, mampu hidup berdasrkan janji Allah. Betapa tidak! Pada waktu Abram (Abraham) dipanggil Allah usianya sudah 75 tahun (Kej.12:4), sudah tinggal dan mapan di Haran (Kej.11:31), dan isterinya – Sarai (Sara) – mandul (Kej.11:30), dan diminta untuk meninggalkan Haran untuk pergi ’ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu’, serta dijanjikan ’Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu mashur; dan engkau akan menjadi berkat’ (Kej. 12:1-2). Janji Allah sungguh di luar perhitungan manusiawi, namun Abraham percaya pada janji Allah tersebut, sehingga ”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, ....” (Kej.12:4). Biarpun janji itu tidak segera terjadi sehingga Abram sempat mengeluh kepada Allah ”...., apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, ....” (Kej.15:2). Keluhan Abram dijawab oleh Allah ”.....anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Selanjutnya penulis Kitab Kejadian menulis ”Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej. 15:6), atau bahasa Rasul Paulus ’karena imannya maka Abraham dibenarkan oleh Allah’ (bdk. Rom. 4:1-25). Namun, jawaban Allah masih perlu dinantikan .... sampai akhirnya Sara ’melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya’ (Kej.21:2).
Namun, tiba saatnya iman Abraham diuji, Allah berfirman ”Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kej. 22: 2). Pasti dengan perasaan sangat sedih dan dengan pikiran kosong karena tidak mampu memahami firman tersebut, ”Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham ..... lalu berangkatlah ia dan dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya” (Kej. 22: 3). Akhir cerita Abraham lulus ujian iman (Kej. 22:12).
Pada perikop 22 ini ada teks yang sangat mengesan bagi saya, teks yang saya maksud adalah ”Aku bersumpah demi diriKu sendiri – demikianlah firman Tuhan – karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu” (Kej. 22: 16-18). Bandingkan teks tersebut dengan teks yang berasal dari tradisi yang berbeda, yaitu dari Ulangan. ”.... supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu .....” (Ul. 6:18) dan ”..... kita dibawaNya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawaNya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikanNya dengan sumpah kepada nenek moyang kita” (Ul. 6: 23).
Kesaksian Perjanjian Lama ini mau menampilkan Tuhan sebagai Pembuat janji yang berkuasa dan dapat diandalkan, Tuhan adalah jaminan hidup kita, sebagaimana dikidungkan oleh pemazmur (Mzm, 119:122) dan sebagaimana dikidungkan oleh Hizkia (Yes. 38: 14).
Pada kutipan Kej. 22: 16-18 dan Ul. 6: 18, 23 ada tiga kata yang dengan sengaja saya tulis dengan huruf italic, karena kata-kata itu sangat menarik bagi saya, yaitu bersumpah, memberkati dan memberikan. Betapa tidak! Biasanya dalam kehidupan sehari-hari seseorang bersumpah/sumpah pasti demi sesuatu yang melampaui dirinya, demi sesuatu yang transenden. Maka bersumpah/sumpah pada kutipan teks tersebut ingin menunjuk pada kekuasaan Allah.
Kata memberkati dalam hidup Kamus Besar Bahasa Indonesia diberi penjelasan sebagai berikut: ’memberi berkat (tentang Tuhan); mendoa supaya Tuhan mendatangkan berkah; mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan sebagainya’ . Dalam hal ini Allah ingin menganugerahkan keturunan, tanah, penyertaan kepada Abraham dan keturunannya, baik keturunan menurut darah maupun keturunan menurut iman (lihat Kej. 26:3-5, ). Begitu pula dengan kata ’memberikan’, Allah berjanji untuk memberikan atau menyerahkan dengan rela negeri yang telah dijanjikan.
Iman Abraham diungkapkan dalam pergulatan hidupnya tanpa putus asa, tanpa putus harapan akan janji Allah lewat sumpahNya (lihat Kej.22:16). Abraham tidak ragu-ragu akan Allah yang berjanji, biarpun realisasi janji itu tertunda-tunda, tetapi Abraham percaya bahwa Allah itu setia. Iman dan harapan demikian yang diwariskan Abraham kepada kita sebagai pengikut dan murid Kristus Yesus. Sebagai ahli waris iman-Abraham, maka kita perlu mengungkapkannya dalam hidup kita sehari-hari. Selain daripada itu sebagaimana diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (lihat Rm.4:1-25), bahwa janji Allah tidak didasarkan pada prestasi Abraham, melainkan semata-mata karena Allah itu kasih.
Akhirnya, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa ’berharap’ itu hanya mungkin bila kita ’beriman’ dan kita harus rela untuk bergulat dalam hidup kita sehari-hari tanpa pernah putus asa. Perjuangan seperti itulah yang memberi ’makna’ bagi hidup kita.
Bogor, 23 Oktober 2011
Stanislaus Nugroho
”....... ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus dihadapan Allah dan Bapa kita” (1Tes.1:3).
Dewasa ini banyak orang – sejauh kita mengikuti media massa, entah itu TV, surat kabar – mengeluh bahwa hidup menjadi semakin sulit, biaya hidup semakin tinggi. Maka tidak heran fenomena ’mengakhiri hidup sebelum waktunya’ (= bunuh diri) semakin banyak. Kemarin siang, 21 Oktober 2011 saya mendengar berita di Metro TV ada seorang laki-laki yang ditinggal oleh pasangannya bekerja sebagai TKW di luar negeri bunuh diri bersama anak bayinya.
Salah satu alasannya tidak lain adalah ’kemiskinan’, memang kemiskinan merupakan salah satu penyakit sosial yang bertentangan dengan martabat manusia, mereka menjadi putus harapan atau putus asa akan masa depannya. Mengapa seorang manusia bisa putus asa, kehilangan pengharapan?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kita dapat menemukan penjelasan tentang ’pengharapan sebagai harapan’, sedang harapan sendiri dijelaskan sebagai: (1) sesuatu yang (dapat) diharapkan; (2) keinginan supaya menjadi kenyataan; (3) orang yang diharapkan atau dipercaya. Dengan demikian pengharapan atau harapan berkaitan dengan masa depan, berkaitan dengan sesuatu yang belum menjadi fakta, berkaitan dengan sesuatu yang kita nantikan kenyataannya.
Dalam kaitan dengan pengharapan, apa bedanya dengan optimisme. John Macquarrie tidak menyamakan antara pengharapan dan optimisme. Bagi John Macquarrie, optimisme merupakan suatu sikap percaya akan masa depan dengan alasan dan perhitungan yang pasti, sedang pengharapan merupakan suatu keutamaan teologis dan berkaitan dengan kehidupan religius. Di samping itu ada dua keutamaan teologis yang lain, yaitu: iman dan kasih.Berkaitan dengan itu maka St. Thomas Aquinas merumuskannya sebagai berikut: ”Pengharapan merupakan suatu keutamaan. Disebut sebagai pengharapan sejauh memiliki Allah sebagai tujuan masa depannya dan dengan tekun dapat dicapainya dengan bantuan Allah” . Selanjutnya St. Thomas Aquinas menulis ”Pengharapan mengarah kepada Tuhan sebagai prinsip kebaikan sempurna dalam kita. Tujuan pengharapan ialah tercapainya kebaikan sempurna” . Dengan demikian pengharapan berciri eskatologis, mengacu pada masa depan, jaitu: akhir Jaman. Salah satu kritik Karl Marx berkaitan dengan soal ini, ’agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Keterasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri” .
Pengharapan mengandaikan adanya keutamaan iman akan adanya Penjamin yang bisa dipercaya. Tapi bagaimana itu harus kita mengerti, agar dengan demikian kita dapat menghayatinya dengan tepat, agar kita tidak terkena kritik Karl Marx tersebut di atas. Untuk itu maka marilah kita belajar dari seorang tokoh perjanjian lama yang bernama Abraham, yang awalnya bernama Abram , yang kita kenal sebagai ’bapak orang-orang beriman’.
Kisah tentang Abram (Abraham) merupakan kisah seorang beriman dan sekaligus berpengharapan, dapat kita baca dan renungkan pada Kej.11:26 – 25:18. suatu kisah yang inspiratif dan menantang. Bila kita telah membaca dan merenungkan kisah tersebut di atas maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang beriman dan berpengharapan merupakan kisah orang yang mampu ’melampaui’ dirinya sendiri, artinya mampu melepaskan perhitungan-perhitungan manusiawi, dan mampu berpasrah diri pada penyelenggaraan ilahi, mampu hidup berdasrkan janji Allah. Betapa tidak! Pada waktu Abram (Abraham) dipanggil Allah usianya sudah 75 tahun (Kej.12:4), sudah tinggal dan mapan di Haran (Kej.11:31), dan isterinya – Sarai (Sara) – mandul (Kej.11:30), dan diminta untuk meninggalkan Haran untuk pergi ’ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu’, serta dijanjikan ’Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu mashur; dan engkau akan menjadi berkat’ (Kej. 12:1-2). Janji Allah sungguh di luar perhitungan manusiawi, namun Abraham percaya pada janji Allah tersebut, sehingga ”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, ....” (Kej.12:4). Biarpun janji itu tidak segera terjadi sehingga Abram sempat mengeluh kepada Allah ”...., apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, ....” (Kej.15:2). Keluhan Abram dijawab oleh Allah ”.....anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Selanjutnya penulis Kitab Kejadian menulis ”Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej. 15:6), atau bahasa Rasul Paulus ’karena imannya maka Abraham dibenarkan oleh Allah’ (bdk. Rom. 4:1-25). Namun, jawaban Allah masih perlu dinantikan .... sampai akhirnya Sara ’melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya’ (Kej.21:2).
Namun, tiba saatnya iman Abraham diuji, Allah berfirman ”Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kej. 22: 2). Pasti dengan perasaan sangat sedih dan dengan pikiran kosong karena tidak mampu memahami firman tersebut, ”Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham ..... lalu berangkatlah ia dan dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya” (Kej. 22: 3). Akhir cerita Abraham lulus ujian iman (Kej. 22:12).
Pada perikop 22 ini ada teks yang sangat mengesan bagi saya, teks yang saya maksud adalah ”Aku bersumpah demi diriKu sendiri – demikianlah firman Tuhan – karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu” (Kej. 22: 16-18). Bandingkan teks tersebut dengan teks yang berasal dari tradisi yang berbeda, yaitu dari Ulangan. ”.... supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu .....” (Ul. 6:18) dan ”..... kita dibawaNya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawaNya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikanNya dengan sumpah kepada nenek moyang kita” (Ul. 6: 23).
Kesaksian Perjanjian Lama ini mau menampilkan Tuhan sebagai Pembuat janji yang berkuasa dan dapat diandalkan, Tuhan adalah jaminan hidup kita, sebagaimana dikidungkan oleh pemazmur (Mzm, 119:122) dan sebagaimana dikidungkan oleh Hizkia (Yes. 38: 14).
Pada kutipan Kej. 22: 16-18 dan Ul. 6: 18, 23 ada tiga kata yang dengan sengaja saya tulis dengan huruf italic, karena kata-kata itu sangat menarik bagi saya, yaitu bersumpah, memberkati dan memberikan. Betapa tidak! Biasanya dalam kehidupan sehari-hari seseorang bersumpah/sumpah pasti demi sesuatu yang melampaui dirinya, demi sesuatu yang transenden. Maka bersumpah/sumpah pada kutipan teks tersebut ingin menunjuk pada kekuasaan Allah.
Kata memberkati dalam hidup Kamus Besar Bahasa Indonesia diberi penjelasan sebagai berikut: ’memberi berkat (tentang Tuhan); mendoa supaya Tuhan mendatangkan berkah; mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan sebagainya’ . Dalam hal ini Allah ingin menganugerahkan keturunan, tanah, penyertaan kepada Abraham dan keturunannya, baik keturunan menurut darah maupun keturunan menurut iman (lihat Kej. 26:3-5, ). Begitu pula dengan kata ’memberikan’, Allah berjanji untuk memberikan atau menyerahkan dengan rela negeri yang telah dijanjikan.
Iman Abraham diungkapkan dalam pergulatan hidupnya tanpa putus asa, tanpa putus harapan akan janji Allah lewat sumpahNya (lihat Kej.22:16). Abraham tidak ragu-ragu akan Allah yang berjanji, biarpun realisasi janji itu tertunda-tunda, tetapi Abraham percaya bahwa Allah itu setia. Iman dan harapan demikian yang diwariskan Abraham kepada kita sebagai pengikut dan murid Kristus Yesus. Sebagai ahli waris iman-Abraham, maka kita perlu mengungkapkannya dalam hidup kita sehari-hari. Selain daripada itu sebagaimana diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (lihat Rm.4:1-25), bahwa janji Allah tidak didasarkan pada prestasi Abraham, melainkan semata-mata karena Allah itu kasih.
Akhirnya, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa ’berharap’ itu hanya mungkin bila kita ’beriman’ dan kita harus rela untuk bergulat dalam hidup kita sehari-hari tanpa pernah putus asa. Perjuangan seperti itulah yang memberi ’makna’ bagi hidup kita.
Bogor, 23 Oktober 2011
Selasa, 16 Agustus 2011
Etos Kerja
MEMBANGUN ETOS KERJA YANG EFEKTIF
Pendahuluan
Sejak John Locke (1632-1704) pekerjaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Bagi Locke lewat pekerjaannya manusia melegitimasi miliknya. Lebih-lebih bagi Locke milik merupakan salah satu dari tiga hak kodrati yang dimiliki manusia, dua lainnya adalah kehidupan dan kebebasan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) beranggapan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari kerja manusia. Kemudian Hegel (1770-1831) mengembangkan suatu filsafat tentang pekerjaan yang nantinya akan menjadi titik tolak bagi filsafat tentang pekerjaan yang dikembangkan oleh Karl Marx. Sebelum itu pekerjaan kurang mendapat perhatian bahkan dianggap rendah. Dewasa ini pekerjaan merupakan suatu gejala yang biasa, bahkan bisa dikatakan bahwa bekerja merupakan sesuatu yang khas manusiawi. Dewasa ini orang harus mempersiapkan diri bertahun-tahun dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar mendapat pekerjaan yang layak. Oleh karena itu ada baiknya bila kita merenungkan sejenak gejala manusiawi ini, agar kita semakin menyadari apa yang kita lakukan selama lebih kurang 10 jam per hari.
Apa tujuan kita bekerja?
Mengawali renungan ini maka ada baiknya bila kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas. Pada umumnya secara spontan kita akan menjawab bahwa kita bekerja agar mendapat uang? Jawaban ini tentunya tidak salah, namun apakah jawaban seperti ini sudah cukup memadai. Sebagai tujuan antara, kita harus menjawab secara afirmatif, namun pasti bukan sebagai tujuan akhir (bila kita meminjam istilah yang dipakai Aristoteles untuk membedakan antara tujuan antara dan tujuan akhir). Tujuan antara adalah tujuan yang dikejar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi batu loncatan ke tujuan lebih lanjut, sedang tujuan akhir adalah tujuan yang dikejar demi dirinya sendiri.
Namun dewasa ini terdapat kecenderungan kuat bahwa mencari uang merupakan tujuan akhir (uang harus dimengerti sebagai harta/kekayaan). Dewasa ini orang cenderung melakukan segala hal agar dapat mengakumulasi harta/kekayaan (lihat lampiran 1). Bahkan sering dengan sedikit bercanda saya berkata bahwa sila pertama dari Pancasila kita yang berbunyi “Ketuhanan yang mahaesa” telah bermetamorfosa menjadi “keuangan yang mahakuasa”. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari bekerja itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut alangkah baiknya bila kita menjawab pertanyaan yang lebih mendasar yaitu “apa itu pekerjaan?” Pekerjaan merupakan sesuatu yang sangat serius, karena bekerja merupakan suatu kegiatan yang seharusnya betul-betul direncanakan agar dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Selain daripada itu pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang serius karena melibatkan seluruh aspek kemanusiaan kita, baik itu sikap, penalaran, emosi, bakat, ketrampilan, pengalaman, pengetahuan maupun kemauan kita. Dalam kaitan ini ada baiknya bila kita sedikit merenungkan apa yang dikatakan oleh Konfusius, ketika ada orang bertanya kepada Konfusius, “apa yang paling mengherankan anda mengenai kemanusiaan?” Jawaban Konfusius adalah sebagai berikut “manusia kehilangan kesehatannya untuk menghasilkan uang dan kemudian kehilangan uang mereka untuk mengembalikan kesehatannya. Dengan khawatir mereka memikirkan mengenai masa depan, namun mereka melupakan masa kini, seolah-olah mereka tidak hidup untuk masa kini maupun untuk masa depan dan mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah mereka belum pernah hidup”.
Bila bekerja merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita maka pasti tujuan akhir dari bekerja bukanlah uang, melainkan bertumbuhkembangnya kemanusiaan kita, atau kalau meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow maka tujuan bekerja adalah agar manusia bisa mengaktualisasikan dirinya secara utuh dengan mengelola bumi dan segala isinya secara bijaksana, agar hidupnya menjadi “fully human, fully alive” sebagaimana diimpikan oleh John Powell. (lihat lampiran 2). Masalahnya bagaimana impian tersebut dapat direalisasikan? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu membangun etos kerja yang efektif, sebagaimana ditawarkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People.
Membangun etos kerja
Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) maka kita menemukan penjelasan tentang etos sebagai “pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial”. Sedang bila kita membuka kamus Concise Oxford Dictionary maka kita menemukan penjelasan tentang ethos sebagai “characteristic spirit of community, people or system”. Sedang bagi Clifford Geertz dalam artikelnya yang berjudul “Ethos, world view and the analysis of sacred symbols” kita menemukan penjelasan sebagai berikut “ethos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup”. Dengan demikian maka etos merupakan semangat yang khas yang dihidupi oleh seseorang, sekelompok orang atau bangsa. Selain daripada itu bagi Clifford Geertz etos juga memiliki aspek evaluatif, dengan demikian bersifat penilaian.
Selanjutnya bagaimana kita bisa memiliki etos kerja tertentu? Dalam kaitan ini maka saya ingin menawarkan apa yang dikembangkan oleh Stephen R. Covey melalui bukunya yang berjudul “The Seven Habits of highly effective people”. Mengapa saya memilih Covey? Bagi saya Covey sangat serius, dia melakukan studi kepustakaan dengan rentang wakyu yang sangat panjang tentang pertanyaan yang berbunyi “Bagaimana mencapai hidup yang berhasil?” Selain daripada itu Covey secara “populer” mencoba untuk mengaplikasikan apa yang secara filosofis dibuat oleh Alasdair MacIntyre, yaitu kembali ke keutamaan, sebagaimana dipikirkan oleh Aristoteles sekitar 2500 tahun yang lalu. Secara tradisional (sejak Sokrates dan Plato) kita mengenal ada empat keutamaan dasar yaitu, kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Covey mencoba menterjemahkan keempat keutamaan tersebut menjadi tujuh kebiasaan (keutamaan merupakan suatu disposisi batin seseorang yang bersifat relatif tetap dan merupakan hasil dari suatu proses pembiasaan diri/hasil latihan yang ajeg), yaitu jadilah proaktif di mana orang bertindak karena didorong oleh nilai-nilai yang sudah dipertimbangkan dengan cermat, diseleksi dan dihati; mulailah tujuan akhir yang ada dalam pikiran anda ayau dengan perkataan lain tetapkanlah apa yang menjadi visi hidup anda; dahulukan yang utama artinya kita bisa menentukan apa yang prioritas dalam hidup kita ini; berpikir menang-menang atau dengan perkataan lain berusahalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak yang kalah; berusahalah untuk mengerti lebih dulu atau secara sederhana belajarlah mendengarkan/mendengar dengan hati; wujudkanlah sinergi atau wujudkanlah nilai tambah dan yang terakhir asahlah gergajimu atau jadilah manusia pembelajar. Dalam studinya Covey menemukan bahwa selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak bangsa Amerika merdeka (1776) maka etika keutamaan lebih diutamakan, di mana kualitas batin serta disiplin diri (yang sorotan majalah Warta edisi no. 12 Th. XIV/II/2003) menjadi sangat penting. Oleh karena itu nilai-nilai seperti kesederhanaan, ketulusan, kerendahan hati, keberanian, integritas, kejujuran, kerajinan dan hidup hemat sangat ditekankan. Namun sejak tahun 1930 an sampai sekarang bukan lagi keutamaan yang diutamakan melainkan tehnik-tehnik mempengaruhi orang lain, di mana pembinaan kehidupan sosial dan karir seseorang lebih diutamakan dan dipisahkan dari pembinaan keutamaan. Dengan lain perkataan terjadi pergeseran dari etika keutamaan ke etika kepribadian. Bagi etika kepribadian “keberhasilan hanyalah sekadar fungsi dari popularitas kita di masyarakat”. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila berakibat bahwa banyak orang dewasa ini bagaikan pohon tanpa akar yang kuat sehingga mudah terombang-ambing oleh mode dan godaan yang seolah-olah menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan.
Kembali ke etika keutamaan
Keutamaan merupakan hasil dari pembiasaan. Bagi Covey kebiasaan hidup efektif dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran abadi, a.l. hukum panen, yang berbunyi “kita akan memanen apa yang kita tanam”. Marilah kita renungkan bersama sebuah peribahasa Tiongkok kuno yang berbunyi “tanamlah pikiran, panenlah perbuatan; tanamlah perbuatan, panenlah kebiasaan; tanamlah kebiasaan, panenlah keutamaan; tanamlah keutamaan, maka anda akan memanen nasib anda sendiri”.
Manusia lahir sebagai bayi yang tak berdaya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi matang dan dewasa. Dimensi fisik, mental, emosi, sosial maupun spiritual kita berkembang bersamaan, meskipun tidak perlu sama cepatnya. Kematangan diri seseorang merupakan proses yang tidak pernah berakhir. Namun secara garis besar proses kematangan diri dapat digambarkan dalam tiga tahap, berawal dari tahap ketergantungan, tumbuh menjadi tahap kemandirian dan akan bermuara pada tahap kesalingtergantungan. Dalam saling ketergantungan manusia mengalami kekayaan perasaan dan keintiman hubungan antar-pribadi di samping hasil nyata dari suatu kegotongan royongan antar manusia. Saling ketergantungan melengkapi proses kematangan diri karena memungkinkan kita menjadi orang yang efektif (efektif tidak hanya berarti perolehan hasil (yang memang penting) melainkan kemampuan kita untuk memelihara serta meningkatkan mutu aset kita, seperti barang-barang, uang dan terutama kemanusiaan kita) dan sekaligus merasa bahagia dalam berbagai segi kehidupan kita.
Ketujuh kebiasaan yang ditawarkan oleh Covey merupakan rangkaian keutamaan yang tumbuh secara bertahap, dan sekaligus menampilkan aspek kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Kebiasaan pertama, kedua dan ketiga mengantar kita ke gerbang kemenangan pribadi, maksudnya memungkinkan kita mencapai kedaulatan dan kepemimpinan diri yang efektif. Karena dengan kebiasaan pertama “jadilah proaktif” maka kita menjadi bertanggungjawab karena sadar bahwa kita senantiasa bebas untuk memilih dan menentukan diri kita sendiri, dan dengan kebiasaan ini kita mampu membentuk visi atau wawasan pribadi apa yang menjadi cita-cita hidup kita. Dengan kebiasaan kedua “memulai dengan tujuan akhir yang ada dalam pikiran kita” atau memiliki visi maka kita mampu menentukan tujuan akhir hidup kita, dan dengan demikian kita mampu memimpin/mengarahkan diri kita sendiri. Sedang dengan kebiasaan ketiga “dahulukan yang utama” atau mampu menentukan prioritas maka kita melaksanakan berbagai aktivitas menurut urutan kepentingannya dan bukan berdasarkan urutan kegentingannya, dengan demikian kita mampu mengelola kehidupan pribadi.
Kebiasaan keempat, kelima dan keenam membimbing kita menuju pintu gerbang kemenangan publik, artinya kemenangan yang memungkinkan kita meraih keberhasilan dalam kerangka kerja sama dengan orang lain. Kebiasaan keempat “berpikir menang-menang” atau berpikir “jangan ada yang kalah” membuat kita selalu mencari alternatif yang memungkinkan semua pihak yang terkait dengan kita tidak ada yang kalah dan memperoleh manfaat, dengan demikian kita mampu memimpin orang lain. Kebiasaan kelima “berusahalah untuk mengerti dulu” atau sikap mendengarkan membuat kita selalu berusaha untuk mengerti orang lain dengan penuh perhatian, dan demikian kita mampu berkomunikasi secara efektif. Sedang kebiasaan keenam “wujudkanlah sinergi” atau menciptakan nilai tambah membuat kita berusaha selalu kreatif dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita dengan orang lain, dan dengan demikian kita mampu menciptakan kerjasama yang kreatif.
Akhirnya kebiasaan ketujuh “asahlah gergajimu” atau jadilah manusia pembelajar merupakan suatu kebiasaan yang melingkupi keenam kebiasaan terdahulu. Kebiasaan ini tidak lain adalah aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari yang dapat menanamkan prinsip-prinsip efektivitas ke dalam hidup kita. Dengan ini maka kita mengalami kemenangan atas diri sendiri yang sesungguhnya dan menjadi kunci perubahan yang kita kendalikan sendiri. Oleh karena itu membangun etos kerja tidak lain adalah membangun kepemimpinan yang visioner, di mana kita mampu memimpin diri sendiri, mampu memimpin orang lain dan bersama-bersama menuju ke masa depan, menuju dunia yang baru.
Keutamaan adalah pembiasaan, maka bila kita ingin menghayati apa yang telah kita renungkan selama ini maka tidak ada jalan lain marilah kita mulai melaksanakan pekerjaan rumah kita ini dengan tekun dan ulet dan disiplin, siap untuk menjadi murid (disciple) dari dan dalam kehidupan ini.
Bogor, 17 Agustus 2011
Stanislaus Nugroho
Pendahuluan
Sejak John Locke (1632-1704) pekerjaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Bagi Locke lewat pekerjaannya manusia melegitimasi miliknya. Lebih-lebih bagi Locke milik merupakan salah satu dari tiga hak kodrati yang dimiliki manusia, dua lainnya adalah kehidupan dan kebebasan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) beranggapan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari kerja manusia. Kemudian Hegel (1770-1831) mengembangkan suatu filsafat tentang pekerjaan yang nantinya akan menjadi titik tolak bagi filsafat tentang pekerjaan yang dikembangkan oleh Karl Marx. Sebelum itu pekerjaan kurang mendapat perhatian bahkan dianggap rendah. Dewasa ini pekerjaan merupakan suatu gejala yang biasa, bahkan bisa dikatakan bahwa bekerja merupakan sesuatu yang khas manusiawi. Dewasa ini orang harus mempersiapkan diri bertahun-tahun dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar mendapat pekerjaan yang layak. Oleh karena itu ada baiknya bila kita merenungkan sejenak gejala manusiawi ini, agar kita semakin menyadari apa yang kita lakukan selama lebih kurang 10 jam per hari.
Apa tujuan kita bekerja?
Mengawali renungan ini maka ada baiknya bila kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas. Pada umumnya secara spontan kita akan menjawab bahwa kita bekerja agar mendapat uang? Jawaban ini tentunya tidak salah, namun apakah jawaban seperti ini sudah cukup memadai. Sebagai tujuan antara, kita harus menjawab secara afirmatif, namun pasti bukan sebagai tujuan akhir (bila kita meminjam istilah yang dipakai Aristoteles untuk membedakan antara tujuan antara dan tujuan akhir). Tujuan antara adalah tujuan yang dikejar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi batu loncatan ke tujuan lebih lanjut, sedang tujuan akhir adalah tujuan yang dikejar demi dirinya sendiri.
Namun dewasa ini terdapat kecenderungan kuat bahwa mencari uang merupakan tujuan akhir (uang harus dimengerti sebagai harta/kekayaan). Dewasa ini orang cenderung melakukan segala hal agar dapat mengakumulasi harta/kekayaan (lihat lampiran 1). Bahkan sering dengan sedikit bercanda saya berkata bahwa sila pertama dari Pancasila kita yang berbunyi “Ketuhanan yang mahaesa” telah bermetamorfosa menjadi “keuangan yang mahakuasa”. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari bekerja itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut alangkah baiknya bila kita menjawab pertanyaan yang lebih mendasar yaitu “apa itu pekerjaan?” Pekerjaan merupakan sesuatu yang sangat serius, karena bekerja merupakan suatu kegiatan yang seharusnya betul-betul direncanakan agar dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Selain daripada itu pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang serius karena melibatkan seluruh aspek kemanusiaan kita, baik itu sikap, penalaran, emosi, bakat, ketrampilan, pengalaman, pengetahuan maupun kemauan kita. Dalam kaitan ini ada baiknya bila kita sedikit merenungkan apa yang dikatakan oleh Konfusius, ketika ada orang bertanya kepada Konfusius, “apa yang paling mengherankan anda mengenai kemanusiaan?” Jawaban Konfusius adalah sebagai berikut “manusia kehilangan kesehatannya untuk menghasilkan uang dan kemudian kehilangan uang mereka untuk mengembalikan kesehatannya. Dengan khawatir mereka memikirkan mengenai masa depan, namun mereka melupakan masa kini, seolah-olah mereka tidak hidup untuk masa kini maupun untuk masa depan dan mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah mereka belum pernah hidup”.
Bila bekerja merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita maka pasti tujuan akhir dari bekerja bukanlah uang, melainkan bertumbuhkembangnya kemanusiaan kita, atau kalau meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow maka tujuan bekerja adalah agar manusia bisa mengaktualisasikan dirinya secara utuh dengan mengelola bumi dan segala isinya secara bijaksana, agar hidupnya menjadi “fully human, fully alive” sebagaimana diimpikan oleh John Powell. (lihat lampiran 2). Masalahnya bagaimana impian tersebut dapat direalisasikan? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu membangun etos kerja yang efektif, sebagaimana ditawarkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People.
Membangun etos kerja
Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) maka kita menemukan penjelasan tentang etos sebagai “pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial”. Sedang bila kita membuka kamus Concise Oxford Dictionary maka kita menemukan penjelasan tentang ethos sebagai “characteristic spirit of community, people or system”. Sedang bagi Clifford Geertz dalam artikelnya yang berjudul “Ethos, world view and the analysis of sacred symbols” kita menemukan penjelasan sebagai berikut “ethos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup”. Dengan demikian maka etos merupakan semangat yang khas yang dihidupi oleh seseorang, sekelompok orang atau bangsa. Selain daripada itu bagi Clifford Geertz etos juga memiliki aspek evaluatif, dengan demikian bersifat penilaian.
Selanjutnya bagaimana kita bisa memiliki etos kerja tertentu? Dalam kaitan ini maka saya ingin menawarkan apa yang dikembangkan oleh Stephen R. Covey melalui bukunya yang berjudul “The Seven Habits of highly effective people”. Mengapa saya memilih Covey? Bagi saya Covey sangat serius, dia melakukan studi kepustakaan dengan rentang wakyu yang sangat panjang tentang pertanyaan yang berbunyi “Bagaimana mencapai hidup yang berhasil?” Selain daripada itu Covey secara “populer” mencoba untuk mengaplikasikan apa yang secara filosofis dibuat oleh Alasdair MacIntyre, yaitu kembali ke keutamaan, sebagaimana dipikirkan oleh Aristoteles sekitar 2500 tahun yang lalu. Secara tradisional (sejak Sokrates dan Plato) kita mengenal ada empat keutamaan dasar yaitu, kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Covey mencoba menterjemahkan keempat keutamaan tersebut menjadi tujuh kebiasaan (keutamaan merupakan suatu disposisi batin seseorang yang bersifat relatif tetap dan merupakan hasil dari suatu proses pembiasaan diri/hasil latihan yang ajeg), yaitu jadilah proaktif di mana orang bertindak karena didorong oleh nilai-nilai yang sudah dipertimbangkan dengan cermat, diseleksi dan dihati; mulailah tujuan akhir yang ada dalam pikiran anda ayau dengan perkataan lain tetapkanlah apa yang menjadi visi hidup anda; dahulukan yang utama artinya kita bisa menentukan apa yang prioritas dalam hidup kita ini; berpikir menang-menang atau dengan perkataan lain berusahalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak yang kalah; berusahalah untuk mengerti lebih dulu atau secara sederhana belajarlah mendengarkan/mendengar dengan hati; wujudkanlah sinergi atau wujudkanlah nilai tambah dan yang terakhir asahlah gergajimu atau jadilah manusia pembelajar. Dalam studinya Covey menemukan bahwa selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak bangsa Amerika merdeka (1776) maka etika keutamaan lebih diutamakan, di mana kualitas batin serta disiplin diri (yang sorotan majalah Warta edisi no. 12 Th. XIV/II/2003) menjadi sangat penting. Oleh karena itu nilai-nilai seperti kesederhanaan, ketulusan, kerendahan hati, keberanian, integritas, kejujuran, kerajinan dan hidup hemat sangat ditekankan. Namun sejak tahun 1930 an sampai sekarang bukan lagi keutamaan yang diutamakan melainkan tehnik-tehnik mempengaruhi orang lain, di mana pembinaan kehidupan sosial dan karir seseorang lebih diutamakan dan dipisahkan dari pembinaan keutamaan. Dengan lain perkataan terjadi pergeseran dari etika keutamaan ke etika kepribadian. Bagi etika kepribadian “keberhasilan hanyalah sekadar fungsi dari popularitas kita di masyarakat”. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila berakibat bahwa banyak orang dewasa ini bagaikan pohon tanpa akar yang kuat sehingga mudah terombang-ambing oleh mode dan godaan yang seolah-olah menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan.
Kembali ke etika keutamaan
Keutamaan merupakan hasil dari pembiasaan. Bagi Covey kebiasaan hidup efektif dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran abadi, a.l. hukum panen, yang berbunyi “kita akan memanen apa yang kita tanam”. Marilah kita renungkan bersama sebuah peribahasa Tiongkok kuno yang berbunyi “tanamlah pikiran, panenlah perbuatan; tanamlah perbuatan, panenlah kebiasaan; tanamlah kebiasaan, panenlah keutamaan; tanamlah keutamaan, maka anda akan memanen nasib anda sendiri”.
Manusia lahir sebagai bayi yang tak berdaya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi matang dan dewasa. Dimensi fisik, mental, emosi, sosial maupun spiritual kita berkembang bersamaan, meskipun tidak perlu sama cepatnya. Kematangan diri seseorang merupakan proses yang tidak pernah berakhir. Namun secara garis besar proses kematangan diri dapat digambarkan dalam tiga tahap, berawal dari tahap ketergantungan, tumbuh menjadi tahap kemandirian dan akan bermuara pada tahap kesalingtergantungan. Dalam saling ketergantungan manusia mengalami kekayaan perasaan dan keintiman hubungan antar-pribadi di samping hasil nyata dari suatu kegotongan royongan antar manusia. Saling ketergantungan melengkapi proses kematangan diri karena memungkinkan kita menjadi orang yang efektif (efektif tidak hanya berarti perolehan hasil (yang memang penting) melainkan kemampuan kita untuk memelihara serta meningkatkan mutu aset kita, seperti barang-barang, uang dan terutama kemanusiaan kita) dan sekaligus merasa bahagia dalam berbagai segi kehidupan kita.
Ketujuh kebiasaan yang ditawarkan oleh Covey merupakan rangkaian keutamaan yang tumbuh secara bertahap, dan sekaligus menampilkan aspek kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Kebiasaan pertama, kedua dan ketiga mengantar kita ke gerbang kemenangan pribadi, maksudnya memungkinkan kita mencapai kedaulatan dan kepemimpinan diri yang efektif. Karena dengan kebiasaan pertama “jadilah proaktif” maka kita menjadi bertanggungjawab karena sadar bahwa kita senantiasa bebas untuk memilih dan menentukan diri kita sendiri, dan dengan kebiasaan ini kita mampu membentuk visi atau wawasan pribadi apa yang menjadi cita-cita hidup kita. Dengan kebiasaan kedua “memulai dengan tujuan akhir yang ada dalam pikiran kita” atau memiliki visi maka kita mampu menentukan tujuan akhir hidup kita, dan dengan demikian kita mampu memimpin/mengarahkan diri kita sendiri. Sedang dengan kebiasaan ketiga “dahulukan yang utama” atau mampu menentukan prioritas maka kita melaksanakan berbagai aktivitas menurut urutan kepentingannya dan bukan berdasarkan urutan kegentingannya, dengan demikian kita mampu mengelola kehidupan pribadi.
Kebiasaan keempat, kelima dan keenam membimbing kita menuju pintu gerbang kemenangan publik, artinya kemenangan yang memungkinkan kita meraih keberhasilan dalam kerangka kerja sama dengan orang lain. Kebiasaan keempat “berpikir menang-menang” atau berpikir “jangan ada yang kalah” membuat kita selalu mencari alternatif yang memungkinkan semua pihak yang terkait dengan kita tidak ada yang kalah dan memperoleh manfaat, dengan demikian kita mampu memimpin orang lain. Kebiasaan kelima “berusahalah untuk mengerti dulu” atau sikap mendengarkan membuat kita selalu berusaha untuk mengerti orang lain dengan penuh perhatian, dan demikian kita mampu berkomunikasi secara efektif. Sedang kebiasaan keenam “wujudkanlah sinergi” atau menciptakan nilai tambah membuat kita berusaha selalu kreatif dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita dengan orang lain, dan dengan demikian kita mampu menciptakan kerjasama yang kreatif.
Akhirnya kebiasaan ketujuh “asahlah gergajimu” atau jadilah manusia pembelajar merupakan suatu kebiasaan yang melingkupi keenam kebiasaan terdahulu. Kebiasaan ini tidak lain adalah aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari yang dapat menanamkan prinsip-prinsip efektivitas ke dalam hidup kita. Dengan ini maka kita mengalami kemenangan atas diri sendiri yang sesungguhnya dan menjadi kunci perubahan yang kita kendalikan sendiri. Oleh karena itu membangun etos kerja tidak lain adalah membangun kepemimpinan yang visioner, di mana kita mampu memimpin diri sendiri, mampu memimpin orang lain dan bersama-bersama menuju ke masa depan, menuju dunia yang baru.
Keutamaan adalah pembiasaan, maka bila kita ingin menghayati apa yang telah kita renungkan selama ini maka tidak ada jalan lain marilah kita mulai melaksanakan pekerjaan rumah kita ini dengan tekun dan ulet dan disiplin, siap untuk menjadi murid (disciple) dari dan dalam kehidupan ini.
Bogor, 17 Agustus 2011
Stanislaus Nugroho
Minggu, 17 Juli 2011
refleksi pengalaman
HARI MINGGU KELABU DAN PENYLENGGARAAN ILAHI
Pikullah kuk yang Kupasang dan
belajarlah padaKu (Mt.11:29a)
Pendahuluan
Baru 14 tahun 5 bulan saya hidup menduda, sejak tanggal 24 Februari 1997 yang lalu pasangan saya dipanggil Bapa untuk kembali ke rumahNya. Saya masih ditemani anak kami yang bungsu sampai Agustus 1998, setelah itu anak kami yang bungsu pindah ke Bandung karena kuliah di Universitas Pajajaran, sedang yang sulung kuliah di Universitas Katolik Soegijopranoto, Semarang. Maka sejak itu saya hidup sendirian – kecuali bila anak-anak pulang ke Bogor – dan selama ini semuanya berjalan baik-baik saja. Saya tidak merasa kesepian karena saya hidup di tengah-tengah warga lingkungan yang guyup, dan yang paling penting saya yakin selalu ditemani oleh Kristus Yesus.
Hari Minggu kelabu
Hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 merupakan hari yang kelabu bagiku. Betapa tidak. Hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 saya masih ke Panti Asuhan Santo Yusuf di Sindanglaya – mengendarai mobil sendiri – dengan seorang teman untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pater Gabriel OFM, Direktur Panti Asuhan. Sekitar jam 14.00 kami pulang, ternyata sesampai di Cisarua turun hujan dan jalan macet. Sesampainya di Bogor jam sudah mendekati jam 16.30 maka kami memutuskan untuk langsung ke Katedral Bogor untuk mengikuti Perayaan Ekaristi agar esok hari bisa istirahat. Setelah selesai mengikuti Perayaan Ekaristi saya mengantar teman saya ke rumahnya dan kemudian saya pulang ke rumah saya. Sesampai di rumah – sekitar jam 19.00 – saya mandi, makan dan sedikit membaca. Jam 21.00 saya pergi tidur di lantai dua, jam 03.00 dini hari saya terbangun untuk ke kamar kecil. Selesai buang air kecil saya kembali tidur. Sampai saat itu saya tidak merasakan kelainan apapun dari diri saya. Jam 05.30 saya bangun dan merasa badan saya tidak seperti biasanya. Ketika saya mau berdiri maka saya akan jatuh, namun saya memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Saya merasa kaki kiri tidak bisa saya kendalikan, tapi saya tetap memaksa diri untuk menuruni tangga – yang cukup curam – sambil berpegangan pada pegangan tangga. Dengan agak susah payah – sambil berdoa ’Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku’ – saya akhirnya berhasil turun. Sesampainya di bawah yang pertama kali terpikir adalah ’aku harus membuka pintu rumah dan gembok pagar’. Dengan susah payah saya berhasil membuka pintu rumah dan gembok pagar, selanjutnya saya masih mampu masak air dan membuat sarapan dalam bentuk havermout. Sambil menunggu havermout siap untuk dimakan maka saya mencoba ke lantai dua untuk melanjutkan kebiasaan saya bermeditasi dan menulis buah permenungan saya di buku catatan harian saya. Setelah selesai saya mencoba turun tapi kaki kiri makin lemah, maka akhirnya saya duduk sambil mencoba maju dan menuruni tangga (bahasa Jawa: ngesot) dan tentu sambil berdoa ’Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku’, akhirnya saya sampai juga di bawah dan berusaha ke meja komputer untuk menulis buah permenungan saya di facebook untuk dibagikan kepada para sahabat, namun tidak berhasil, saya tidak mampu membuka dan menyalakan komputer. Akhirnya sambil ngesot saya menuju ke ruang tamu untuk duduk di kursi tamu. Saya teringat handphone saya yang kebetulan ada didekat meja tamu. Saya mencoba menghubungi beberapa teman, yang pertama saya hubungi ternyata sedang ke Gereja. Yang kedua saya hubungi bisa ketemu kemudian saya hanya memberitahu bahwa saya sakit dan tolong segera ke rumah saya. Setelah saya tunggu sekitar 30 menit tidak datang-datang maka saya menghubungi yang ketiga, kebetulan tersambung dan seperti yang kedua saya memberitahu saya sakit, tolong segera ke rumah. Tidak lama kemudian datang bersama isterinya, karena merasa tidak kuat mengangkat saya maka suaminya memanggil teman yang lain (yang masih tidur), selama menunggu bantuan, isterinya sempat menyuapi saya beberapa sendok havermout yang tadi sudah saya siapkan. Setelah itu saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu Bogor Medical Center (BMC). Setibanya di rumah sakit maka saya langsung di tempatkan di Unit Gawat Darurat, di UGD saya hanya diukur tekanan darah saya (160/110), setelah itu saya didiamkan saja sampai sekitar 2 jam (rupanya karena belum ada yang tandatangan dan memberikan uang muka, teman-teman saya sibuk menghubungi saudara-saudara saya dan teman-teman yang lain). Setelah ada teman yang tandatangan dan memberikan uang muka barulah saya ditangani dan dipindahkan ke Health Care Unit untuk diobservasi lebih lanjut, dan mendapat infus. Sore harinya kepala saya di CT – Scan, ternyata ada sumbatan di otak saya sebelah kanan, maka bagian kiri tubuh saya jadi lumpuh dan bicaranya menjadi cedal, dengan kata lain saya terkena stroke. Setelah saya mulai berbicara dengan cukup jelas saya tanya pada dokter yang merawat ’Apa yang menjadi pemicu sehingga saya bisa menjadi seperti ini?’ Jawaban dokter cukup mengagetkan, yang utama adalah kadar gula darah saya yang tinggi, di samping tekanan darah yang cukup tinggi. Mengagetkan, karena pada akhir dasawarsa 90-an saya pernah didiagnosa oleh dokter menderita kadar gula rendah, karena pernah jatuh di kamar mandi tanpa sadar, sehingga sejak itu saya ramah dengan makanan dan minuman yang manis, karena pada dasarnya memang saya menyukainya.
Penyelenggaraan Ilahi
Setelah beberapa hari berbaring di umah sakit – di mana hanya terbaring lemah, yang dilakukan hanya berbaring sambil diinfus, makan, minum obat, disuntik, buang air lewat kateter, tidak ada yang lain yang dapat saya kerjakan – padahal biasanya saya tidak pernah seperti ini, banyak aktivitas seperti rapat, bepergian, membaca, menulis paper dan lain-lain. Hari-hari saya lewati dengan perasaan frustrasi.
Selain daripada itu saya belum bisa menerima bahwa saya menderita stroke – lebih-lebih para sahabat yang menjenguk selalu berkomentar ’Rupanya Nugroho bisa sakit juga dan sampai harus menginap di rumah sakit.’ – karena hidup saya cukup teratur dan cukup disiplin, hidup saya cukup terkendali dan olah raga cukup teratur. Sampailah saat di mana bapak Uskup Bogor mengunjungi saya di rumah sakit. Pada saat kunjungan itu ada dua kalimat yang menyentuh saya. Beliau berkata ”Stanis usiamu sudah 64 tahun, coba bayangkan organ-organ tubuhmu sudah bekerja selama itu, apakah kaupelihara dengan baik, kalau toh kaupelihara dengan baikpun kondisinya tentu tidak seperti saat usiamu masih 17 tahun”. Kalimat yang kedua beliau ucapkan pada saat beliau mau pulang. Sambil memberi rosario yang beliau berkati maka beliau berucap ”Seringkali waktu seperti ini merupakan saat-saat yang sangat baik untuk merefleksikan perjalanan hidup kita”.
Setelah beliau pulang begitu pula pula para sahabat, maka saya memutuskan untuk memulai ’permenungan panjang’. Saya mulai membaca-baca Kitab Suci dan saya menemukan 2 teks yang menyentuh saya. Yang satu saya temukan pada kitab Ayub, bunyinya sebagai berikut: ’Dengan penderitaannya ia ditegur di tempat tidurnya, ...” (33:19a), selain itu saya juga menemukan di kitab Amsal teks yang berbunyi ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, ....” (18:14a). Kedua teks tersebut semakin mendorong saya untuk melaksanakan permenungan panjang dengan sungguh-sungguh, berkaitan dengan itu maka saya memulai permenungan panjang tersebut dengan doa mohon rahmat, pendampingan dan kekuatan untuk menindak lanjuti temuan-temuan yang akan saya peroleh selama retret panjang tersebut.
Langkah pertama saya mulai merefleksikan peristiwa hari minggu kelabu tersebut. Dalam kepanikan ternyata Tuhan masih menyertaiku – suatu Penyelenggaraan Ilahi – dan masih memberiku kesadaran untuk dapat berpikir dan melakukan apa yang perlu kulakukan, agar bantuan dapat masuk ke rumahku tanpa kesulitan. Penyelenggaraan Ilahi kualami lagi pada hari Senin tanggal 6 Juni dan hari Selasa tanggal 7 Juni, betapa tidak. Hari Senin aku mendapat kunjungan 2 orang suster Misionaris Claris yang di Duren Sawit Jakarta, yang seorang bernama suster Celina MC dan yang lain bernama suster Anna Maria MC. Setelah berbincang-bincang cukup lama, waktu mau pulang suster Celina bertanya kepada saya begini ’Pak Nugroho nanti kalau sudah boleh pulang apa rencananya?’ Jawab saya ’Ya saya pulang ke rumah’. Pertanyaan selanjutnya ’Di rumah dengan siapa?’ Jawab saya ’Dengan Tuhan Yesus’. Kemudian suster Celina berkomentar ’Dalam kondisi seperti sekarang selain Tuhan Yesus bapak memerlukan teman untuk membantu hal-hal yang belum bisa bapak lakukan’. Jawaban saya ’Belum terpikir suster’. Malamnya saya mulai berpikir tentang apa yang dipertanyakan oleh suster Celina, sampai tertidur saya belum menemukan jalan keluarnya, begitu pula keesokan harinya. Siang itu saya ditelpon oleh suster Vero MC – pimpinan regional MC Indonesia – suster Vero mengundang saya untuk memulihkan motorik saya di rumah sakit mereka di Madiun. Jawab saya kepada suster Vero ’Saya akan pikir-pikir dulu sambil berembug dengan anak sulung kami, famili dan teman-teman saya’. Kemudian suster Vero berpesan agar nanti saya memberi kabar. Mungkin anda bertanya di mana anak bungsu kami, koq tidak dilibatkan. Anak bungsu kami saat ini sedang berada di Meksiko, untuk mengikuti pendidikan menjadi seorang suster MC. Tanggal 13 Juni saya diantar oleh kemenakan berangkat ke Madiun, tanggal 14 oleh seorang fisioterapis saya mulai dilatih duduk kemudian berdiri. Keesokan harinya saya mulai dilatih berjalan dengan bantuan tongkat yang kakinya bercabang tiga dan demikian seterusnya sampai hari minggu tanggal 19 Juni saya sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Puji dan terimakasih kepada Tuhan yang begitu menyelenggarakan hidup saya dan semua sahabat yang saya tahu semua mendoakan saya.
Berikutnya lewat sakit ini saya menemukan bahwa Tuhan memberi saya peringatan bahkan teguran (lihat Ayub 33:19a) bahwa saya terlalu percaya diri atau menjadi sombong sehingga lalai untuk merawat diri saya lebih baik. Sejak pasangan saya meninggal dunia, saya tidak pernah kontrol tensi, gula darah dan lain-lain. Saya terlalu percaya untuk bisa mengendalikan diri, lupa usia saya makin lama makin menjadi tua, berarti organ-organ tubuh semakin menjadi aus. Mulai saat ini saya harus lebih bisa menerima diri apa adanya, melakukan kontrol seperlunya agar dengan demikian saya dapat memelihara diri sesuai dengan kondisi saya.
Selanjutnya saya dimotivasi dengan ayat yang meneguhkan saya yaitu ”orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah” (Ams.18:14). Berpenyakit merupakan salah satu penderitaan, lebih-lebih bagi saya – yang terbiasa aktif dengan macam-macam kegiatan – yang sekarang harus berbaring di tempat tidur rumah sakit dan mulai belajar berjalan seperti anak-anak balita. Awalnya saya hampir putus asa, tapi syukurlah menemukan ayat tersebut di atas. Dokter, perawat dan fisioterapis kagum dengan kemajuan saya. Puji dan syukur untuknya atas rahmat kesembuhan yang dicurahkan kepada saya.
Penutup
Hidup ini sungguh sebuah perjalanan bersama dengan sesama, dan di samping itu jangan pernah kita lupakan bahwa kita juga disertai, dibimbing dan kadang-kadang ditegur olehNya. Akhirnya saya ingin berterimakasih kepadaNya yang telah membuka matahati saya, memampukan saya untuk lebih peka dengan pengalaman yang awalnya tidak saya harapkan, dan membuat saya mampu menemukan persiapan-persiapan yang lebih utuh adar saya dapat melanjutkan perjalanan saya. Puji sukur dan terimakasih kepadaNya dan tidak lupa terimakah juga kepada para sahabat yang telah memperhatikan, peduli dan membantu pemulihan saya. Shalom!
Bogor, 17 Juli 2011
Pikullah kuk yang Kupasang dan
belajarlah padaKu (Mt.11:29a)
Pendahuluan
Baru 14 tahun 5 bulan saya hidup menduda, sejak tanggal 24 Februari 1997 yang lalu pasangan saya dipanggil Bapa untuk kembali ke rumahNya. Saya masih ditemani anak kami yang bungsu sampai Agustus 1998, setelah itu anak kami yang bungsu pindah ke Bandung karena kuliah di Universitas Pajajaran, sedang yang sulung kuliah di Universitas Katolik Soegijopranoto, Semarang. Maka sejak itu saya hidup sendirian – kecuali bila anak-anak pulang ke Bogor – dan selama ini semuanya berjalan baik-baik saja. Saya tidak merasa kesepian karena saya hidup di tengah-tengah warga lingkungan yang guyup, dan yang paling penting saya yakin selalu ditemani oleh Kristus Yesus.
Hari Minggu kelabu
Hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 merupakan hari yang kelabu bagiku. Betapa tidak. Hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 saya masih ke Panti Asuhan Santo Yusuf di Sindanglaya – mengendarai mobil sendiri – dengan seorang teman untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pater Gabriel OFM, Direktur Panti Asuhan. Sekitar jam 14.00 kami pulang, ternyata sesampai di Cisarua turun hujan dan jalan macet. Sesampainya di Bogor jam sudah mendekati jam 16.30 maka kami memutuskan untuk langsung ke Katedral Bogor untuk mengikuti Perayaan Ekaristi agar esok hari bisa istirahat. Setelah selesai mengikuti Perayaan Ekaristi saya mengantar teman saya ke rumahnya dan kemudian saya pulang ke rumah saya. Sesampai di rumah – sekitar jam 19.00 – saya mandi, makan dan sedikit membaca. Jam 21.00 saya pergi tidur di lantai dua, jam 03.00 dini hari saya terbangun untuk ke kamar kecil. Selesai buang air kecil saya kembali tidur. Sampai saat itu saya tidak merasakan kelainan apapun dari diri saya. Jam 05.30 saya bangun dan merasa badan saya tidak seperti biasanya. Ketika saya mau berdiri maka saya akan jatuh, namun saya memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Saya merasa kaki kiri tidak bisa saya kendalikan, tapi saya tetap memaksa diri untuk menuruni tangga – yang cukup curam – sambil berpegangan pada pegangan tangga. Dengan agak susah payah – sambil berdoa ’Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku’ – saya akhirnya berhasil turun. Sesampainya di bawah yang pertama kali terpikir adalah ’aku harus membuka pintu rumah dan gembok pagar’. Dengan susah payah saya berhasil membuka pintu rumah dan gembok pagar, selanjutnya saya masih mampu masak air dan membuat sarapan dalam bentuk havermout. Sambil menunggu havermout siap untuk dimakan maka saya mencoba ke lantai dua untuk melanjutkan kebiasaan saya bermeditasi dan menulis buah permenungan saya di buku catatan harian saya. Setelah selesai saya mencoba turun tapi kaki kiri makin lemah, maka akhirnya saya duduk sambil mencoba maju dan menuruni tangga (bahasa Jawa: ngesot) dan tentu sambil berdoa ’Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku’, akhirnya saya sampai juga di bawah dan berusaha ke meja komputer untuk menulis buah permenungan saya di facebook untuk dibagikan kepada para sahabat, namun tidak berhasil, saya tidak mampu membuka dan menyalakan komputer. Akhirnya sambil ngesot saya menuju ke ruang tamu untuk duduk di kursi tamu. Saya teringat handphone saya yang kebetulan ada didekat meja tamu. Saya mencoba menghubungi beberapa teman, yang pertama saya hubungi ternyata sedang ke Gereja. Yang kedua saya hubungi bisa ketemu kemudian saya hanya memberitahu bahwa saya sakit dan tolong segera ke rumah saya. Setelah saya tunggu sekitar 30 menit tidak datang-datang maka saya menghubungi yang ketiga, kebetulan tersambung dan seperti yang kedua saya memberitahu saya sakit, tolong segera ke rumah. Tidak lama kemudian datang bersama isterinya, karena merasa tidak kuat mengangkat saya maka suaminya memanggil teman yang lain (yang masih tidur), selama menunggu bantuan, isterinya sempat menyuapi saya beberapa sendok havermout yang tadi sudah saya siapkan. Setelah itu saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu Bogor Medical Center (BMC). Setibanya di rumah sakit maka saya langsung di tempatkan di Unit Gawat Darurat, di UGD saya hanya diukur tekanan darah saya (160/110), setelah itu saya didiamkan saja sampai sekitar 2 jam (rupanya karena belum ada yang tandatangan dan memberikan uang muka, teman-teman saya sibuk menghubungi saudara-saudara saya dan teman-teman yang lain). Setelah ada teman yang tandatangan dan memberikan uang muka barulah saya ditangani dan dipindahkan ke Health Care Unit untuk diobservasi lebih lanjut, dan mendapat infus. Sore harinya kepala saya di CT – Scan, ternyata ada sumbatan di otak saya sebelah kanan, maka bagian kiri tubuh saya jadi lumpuh dan bicaranya menjadi cedal, dengan kata lain saya terkena stroke. Setelah saya mulai berbicara dengan cukup jelas saya tanya pada dokter yang merawat ’Apa yang menjadi pemicu sehingga saya bisa menjadi seperti ini?’ Jawaban dokter cukup mengagetkan, yang utama adalah kadar gula darah saya yang tinggi, di samping tekanan darah yang cukup tinggi. Mengagetkan, karena pada akhir dasawarsa 90-an saya pernah didiagnosa oleh dokter menderita kadar gula rendah, karena pernah jatuh di kamar mandi tanpa sadar, sehingga sejak itu saya ramah dengan makanan dan minuman yang manis, karena pada dasarnya memang saya menyukainya.
Penyelenggaraan Ilahi
Setelah beberapa hari berbaring di umah sakit – di mana hanya terbaring lemah, yang dilakukan hanya berbaring sambil diinfus, makan, minum obat, disuntik, buang air lewat kateter, tidak ada yang lain yang dapat saya kerjakan – padahal biasanya saya tidak pernah seperti ini, banyak aktivitas seperti rapat, bepergian, membaca, menulis paper dan lain-lain. Hari-hari saya lewati dengan perasaan frustrasi.
Selain daripada itu saya belum bisa menerima bahwa saya menderita stroke – lebih-lebih para sahabat yang menjenguk selalu berkomentar ’Rupanya Nugroho bisa sakit juga dan sampai harus menginap di rumah sakit.’ – karena hidup saya cukup teratur dan cukup disiplin, hidup saya cukup terkendali dan olah raga cukup teratur. Sampailah saat di mana bapak Uskup Bogor mengunjungi saya di rumah sakit. Pada saat kunjungan itu ada dua kalimat yang menyentuh saya. Beliau berkata ”Stanis usiamu sudah 64 tahun, coba bayangkan organ-organ tubuhmu sudah bekerja selama itu, apakah kaupelihara dengan baik, kalau toh kaupelihara dengan baikpun kondisinya tentu tidak seperti saat usiamu masih 17 tahun”. Kalimat yang kedua beliau ucapkan pada saat beliau mau pulang. Sambil memberi rosario yang beliau berkati maka beliau berucap ”Seringkali waktu seperti ini merupakan saat-saat yang sangat baik untuk merefleksikan perjalanan hidup kita”.
Setelah beliau pulang begitu pula pula para sahabat, maka saya memutuskan untuk memulai ’permenungan panjang’. Saya mulai membaca-baca Kitab Suci dan saya menemukan 2 teks yang menyentuh saya. Yang satu saya temukan pada kitab Ayub, bunyinya sebagai berikut: ’Dengan penderitaannya ia ditegur di tempat tidurnya, ...” (33:19a), selain itu saya juga menemukan di kitab Amsal teks yang berbunyi ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, ....” (18:14a). Kedua teks tersebut semakin mendorong saya untuk melaksanakan permenungan panjang dengan sungguh-sungguh, berkaitan dengan itu maka saya memulai permenungan panjang tersebut dengan doa mohon rahmat, pendampingan dan kekuatan untuk menindak lanjuti temuan-temuan yang akan saya peroleh selama retret panjang tersebut.
Langkah pertama saya mulai merefleksikan peristiwa hari minggu kelabu tersebut. Dalam kepanikan ternyata Tuhan masih menyertaiku – suatu Penyelenggaraan Ilahi – dan masih memberiku kesadaran untuk dapat berpikir dan melakukan apa yang perlu kulakukan, agar bantuan dapat masuk ke rumahku tanpa kesulitan. Penyelenggaraan Ilahi kualami lagi pada hari Senin tanggal 6 Juni dan hari Selasa tanggal 7 Juni, betapa tidak. Hari Senin aku mendapat kunjungan 2 orang suster Misionaris Claris yang di Duren Sawit Jakarta, yang seorang bernama suster Celina MC dan yang lain bernama suster Anna Maria MC. Setelah berbincang-bincang cukup lama, waktu mau pulang suster Celina bertanya kepada saya begini ’Pak Nugroho nanti kalau sudah boleh pulang apa rencananya?’ Jawab saya ’Ya saya pulang ke rumah’. Pertanyaan selanjutnya ’Di rumah dengan siapa?’ Jawab saya ’Dengan Tuhan Yesus’. Kemudian suster Celina berkomentar ’Dalam kondisi seperti sekarang selain Tuhan Yesus bapak memerlukan teman untuk membantu hal-hal yang belum bisa bapak lakukan’. Jawaban saya ’Belum terpikir suster’. Malamnya saya mulai berpikir tentang apa yang dipertanyakan oleh suster Celina, sampai tertidur saya belum menemukan jalan keluarnya, begitu pula keesokan harinya. Siang itu saya ditelpon oleh suster Vero MC – pimpinan regional MC Indonesia – suster Vero mengundang saya untuk memulihkan motorik saya di rumah sakit mereka di Madiun. Jawab saya kepada suster Vero ’Saya akan pikir-pikir dulu sambil berembug dengan anak sulung kami, famili dan teman-teman saya’. Kemudian suster Vero berpesan agar nanti saya memberi kabar. Mungkin anda bertanya di mana anak bungsu kami, koq tidak dilibatkan. Anak bungsu kami saat ini sedang berada di Meksiko, untuk mengikuti pendidikan menjadi seorang suster MC. Tanggal 13 Juni saya diantar oleh kemenakan berangkat ke Madiun, tanggal 14 oleh seorang fisioterapis saya mulai dilatih duduk kemudian berdiri. Keesokan harinya saya mulai dilatih berjalan dengan bantuan tongkat yang kakinya bercabang tiga dan demikian seterusnya sampai hari minggu tanggal 19 Juni saya sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Puji dan terimakasih kepada Tuhan yang begitu menyelenggarakan hidup saya dan semua sahabat yang saya tahu semua mendoakan saya.
Berikutnya lewat sakit ini saya menemukan bahwa Tuhan memberi saya peringatan bahkan teguran (lihat Ayub 33:19a) bahwa saya terlalu percaya diri atau menjadi sombong sehingga lalai untuk merawat diri saya lebih baik. Sejak pasangan saya meninggal dunia, saya tidak pernah kontrol tensi, gula darah dan lain-lain. Saya terlalu percaya untuk bisa mengendalikan diri, lupa usia saya makin lama makin menjadi tua, berarti organ-organ tubuh semakin menjadi aus. Mulai saat ini saya harus lebih bisa menerima diri apa adanya, melakukan kontrol seperlunya agar dengan demikian saya dapat memelihara diri sesuai dengan kondisi saya.
Selanjutnya saya dimotivasi dengan ayat yang meneguhkan saya yaitu ”orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah” (Ams.18:14). Berpenyakit merupakan salah satu penderitaan, lebih-lebih bagi saya – yang terbiasa aktif dengan macam-macam kegiatan – yang sekarang harus berbaring di tempat tidur rumah sakit dan mulai belajar berjalan seperti anak-anak balita. Awalnya saya hampir putus asa, tapi syukurlah menemukan ayat tersebut di atas. Dokter, perawat dan fisioterapis kagum dengan kemajuan saya. Puji dan syukur untuknya atas rahmat kesembuhan yang dicurahkan kepada saya.
Penutup
Hidup ini sungguh sebuah perjalanan bersama dengan sesama, dan di samping itu jangan pernah kita lupakan bahwa kita juga disertai, dibimbing dan kadang-kadang ditegur olehNya. Akhirnya saya ingin berterimakasih kepadaNya yang telah membuka matahati saya, memampukan saya untuk lebih peka dengan pengalaman yang awalnya tidak saya harapkan, dan membuat saya mampu menemukan persiapan-persiapan yang lebih utuh adar saya dapat melanjutkan perjalanan saya. Puji sukur dan terimakasih kepadaNya dan tidak lupa terimakah juga kepada para sahabat yang telah memperhatikan, peduli dan membantu pemulihan saya. Shalom!
Bogor, 17 Juli 2011
Jumat, 06 Mei 2011
Etos Kerja
MEMBANGUN ETOS KERJA YANG EFEKTIF
Stanislaus Nugroho
Pendahuluan
Sejak John Locke (1632-1704) pekerjaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Bagi Locke lewat pekerjaannya manusia melegitimasi miliknya. Lebih-lebih bagi Locke milik merupakan salah satu dari tiga hak kodrati yang dimiliki manusia, dua lainnya adalah kehidupan dan kebebasan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) beranggapan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari kerja manusia. Kemudian Hegel (1770-1831) mengembangkan suatu filsafat tentang pekerjaan yang nantinya akan menjadi titik tolak bagi filsafat tentang pekerjaan yang dikembangkan oleh Karl Marx. Sebelum itu pekerjaan kurang mendapat perhatian bahkan dianggap rendah. Dewasa ini pekerjaan merupakan suatu gejala yang biasa, bahkan bisa dikatakan bahwa bekerja merupakan sesuatu yang khas manusiawi. Dewasa ini orang harus mempersiapkan diri bertahun-tahun dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar mendapat pekerjaan yang layak. Oleh karena itu ada baiknya bila kita merenungkan sejenak gejala manusiawi ini, agar kita semakin menyadari apa yang kita lakukan selama lebih kurang 10 jam per hari.
Apa tujuan kita bekerja?
Mengawali renungan ini maka ada baiknya bila kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas. Pada umumnya secara spontan kita akan menjawab bahwa kita bekerja agar mendapat uang? Jawaban ini tentunya tidak salah, namun apakah jawaban seperti ini sudah cukup memadai. Sebagai tujuan antara, kita harus menjawab secara afirmatif, namun pasti bukan sebagai tujuan akhir (bila kita meminjam istilah yang dipakai Aristoteles untuk membedakan antara tujuan antara dan tujuan akhir). Tujuan antara adalah tujuan yang dikejar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi batu loncatan ke tujuan lebih lanjut, sedang tujuan akhir adalah tujuan yang dikejar demi dirinya sendiri.
Namun dewasa ini terdapat kecenderungan kuat bahwa mencari uang merupakan tujuan akhir (uang harus dimengerti sebagai harta/kekayaan). Dewasa ini orang cenderung melakukan segala hal agar dapat mengakumulasi harta/kekayaan (lihat lampiran 1). Bahkan sering dengan sedikit bercanda saya berkata bahwa sila pertama dari Pancasila kita yang berbunyi “Ketuhanan yang mahaesa” telah bermetamorfosa menjadi “keuangan yang mahakuasa”. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari bekerja itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut alangkah baiknya bila kita menjawab pertanyaan yang lebih mendasar yaitu “apa itu pekerjaan?” Pekerjaan merupakan sesuatu yang sangat serius, karena bekerja merupakan suatu kegiatan yang seharusnya betul-betul direncanakan agar dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Selain daripada itu pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang serius karena melibatkan seluruh aspek kemanusiaan kita, baik itu sikap, penalaran, emosi, bakat, ketrampilan, pengalaman, pengetahuan maupun kemauan kita. Dalam kaitan ini ada baiknya bila kita sedikit merenungkan apa yang dikatakan oleh Konfusius, ketika ada orang bertanya kepada Konfusius, “apa yang paling mengherankan anda mengenai kemanusiaan?” Jawaban Konfusius adalah sebagai berikut “manusia kehilangan kesehatannya untuk menghasilkan uang dan kemudian kehilangan uang mereka untuk mengembalikan kesehatannya. Dengan khawatir mereka memikirkan mengenai masa depan, namun mereka melupakan masa kini, seolah-olah mereka tidak hidup untuk masa kini maupun untuk masa depan dan mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah mereka belum pernah hidup”.
Bila bekerja merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita maka pasti tujuan akhir dari bekerja bukanlah uang, melainkan bertumbuhkembangnya kemanusiaan kita, atau kalau meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow maka tujuan bekerja adalah agar manusia bisa mengaktualisasikan dirinya secara utuh dengan mengelola bumi dan segala isinya secara bijaksana, agar hidupnya menjadi “fully human, fully alive” sebagaimana diimpikan oleh John Powell. (lihat lampiran 2). Masalahnya bagaimana impian tersebut dapat direalisasikan? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu membangun etos kerja yang efektif, sebagaimana ditawarkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People.
Membangun etos kerja
Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) maka kita menemukan penjelasan tentang etos sebagai “pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial”. Sedang bila kita membuka kamus Concise Oxford Dictionary maka kita menemukan penjelasan tentang ethos sebagai “characteristic spirit of community, people or system”. Sedang bagi Clifford Geertz dalam artikelnya yang berjudul “Ethos, world view and the analysis of sacred symbols” kita menemukan penjelasan sebagai berikut “ethos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup”. Dengan demikian maka etos merupakan semangat yang khas yang dihidupi oleh seseorang, sekelompok orang atau bangsa. Selain daripada itu bagi Clifford Geertz etos juga memiliki aspek evaluatif, dengan demikian bersifat penilaian.
Selanjutnya bagaimana kita bisa memiliki etos kerja tertentu? Dalam kaitan ini maka saya ingin menawarkan apa yang dikembangkan oleh Stephen R. Covey melalui bukunya yang berjudul “The Seven Habits of highly effective people”. Mengapa saya memilih Covey? Bagi saya Covey sangat serius, dia melakukan studi kepustakaan dengan rentang wakyu yang sangat panjang tentang pertanyaan yang berbunyi “Bagaimana mencapai hidup yang berhasil?” Selain daripada itu Covey secara “populer” mencoba untuk mengaplikasikan apa yang secara filosofis dibuat oleh Alasdair MacIntyre, yaitu kembali ke keutamaan, sebagaimana dipikirkan oleh Aristoteles sekitar 2500 tahun yang lalu. Secara tradisional (sejak Sokrates dan Plato) kita mengenal ada empat keutamaan dasar yaitu, kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Covey mencoba menterjemahkan keempat keutamaan tersebut menjadi tujuh kebiasaan (keutamaan merupakan suatu disposisi batin seseorang yang bersifat relatif tetap dan merupakan hasil dari suatu proses pembiasaan diri/hasil latihan yang ajeg), yaitu jadilah proaktif di mana orang bertindak karena didorong oleh nilai-nilai yang sudah dipertimbangkan dengan cermat, diseleksi dan dihati; mulailah tujuan akhir yang ada dalam pikiran anda ayau dengan perkataan lain tetapkanlah apa yang menjadi visi hidup anda; dahulukan yang utama artinya kita bisa menentukan apa yang prioritas dalam hidup kita ini; berpikir menang-menang atau dengan perkataan lain berusahalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak yang kalah; berusahalah untuk mengerti lebih dulu atau secara sederhana belajarlah mendengarkan/mendengar dengan hati; wujudkanlah sinergi atau wujudkanlah nilai tambah dan yang terakhir asahlah gergajimu atau jadilah manusia pembelajar. Dalam studinya Covey menemukan bahwa selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak bangsa Amerika merdeka (1776) maka etika keutamaan lebih diutamakan, di mana kualitas batin serta disiplin diri (yang sorotan majalah Warta edisi no. 12 Th. XIV/II/2003) menjadi sangat penting. Oleh karena itu nilai-nilai seperti kesederhanaan, ketulusan, kerendahan hati, keberanian, integritas, kejujuran, kerajinan dan hidup hemat sangat ditekankan. Namun sejak tahun 1930 an sampai sekarang bukan lagi keutamaan yang diutamakan melainkan tehnik-tehnik mempengaruhi orang lain, di mana pembinaan kehidupan sosial dan karir seseorang lebih diutamakan dan dipisahkan dari pembinaan keutamaan. Dengan lain perkataan terjadi pergeseran dari etika keutamaan ke etika kepribadian. Bagi etika kepribadian “keberhasilan hanyalah sekadar fungsi dari popularitas kita di masyarakat”. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila berakibat bahwa banyak orang dewasa ini bagaikan pohon tanpa akar yang kuat sehingga mudah terombang-ambing oleh mode dan godaan yang seolah-olah menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan.
Kembali ke etika keutamaan
Keutamaan merupakan hasil dari pembiasaan. Bagi Covey kebiasaan hidup efektif dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran abadi, a.l. hukum panen, yang berbunyi “kita akan memanen apa yang kita tanam”. Marilah kita renungkan bersama sebuah peribahasa Tiongkok kuno yang berbunyi “tanamlah pikiran, panenlah perbuatan; tanamlah perbuatan, panenlah kebiasaan; tanamlah kebiasaan, panenlah keutamaan; tanamlah keutamaan, maka anda akan memanen nasib anda sendiri”.
Manusia lahir sebagai bayi yang tak berdaya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi matang dan dewasa. Dimensi fisik, mental, emosi, sosial maupun spiritual kita berkembang bersamaan, meskipun tidak perlu sama cepatnya. Kematangan diri seseorang merupakan proses yang tidak pernah berakhir. Namun secara garis besar proses kematangan diri dapat digambarkan dalam tiga tahap, berawal dari tahap ketergantungan, tumbuh menjadi tahap kemandirian dan akan bermuara pada tahap kesalingtergantungan. Dalam saling ketergantungan manusia mengalami kekayaan perasaan dan keintiman hubungan antar-pribadi di samping hasil nyata dari suatu kegotongan royongan antar manusia. Saling ketergantungan melengkapi proses kematangan diri karena memungkinkan kita menjadi orang yang efektif (efektif tidak hanya berarti perolehan hasil (yang memang penting) melainkan kemampuan kita untuk memelihara serta meningkatkan mutu aset kita, seperti barang-barang, uang dan terutama kemanusiaan kita) dan sekaligus merasa bahagia dalam berbagai segi kehidupan kita.
Ketujuh kebiasaan yang ditawarkan oleh Covey merupakan rangkaian keutamaan yang tumbuh secara bertahap, dan sekaligus menampilkan aspek kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Kebiasaan pertama, kedua dan ketiga mengantar kita ke gerbang kemenangan pribadi, maksudnya memungkinkan kita mencapai kedaulatan dan kepemimpinan diri yang efektif. Karena dengan kebiasaan pertama “jadilah proaktif” maka kita menjadi bertanggungjawab karena sadar bahwa kita senantiasa bebas untuk memilih dan menentukan diri kita sendiri, dan dengan kebiasaan ini kita mampu membentuk visi atau wawasan pribadi apa yang menjadi cita-cita hidup kita. Dengan kebiasaan kedua “memulai dengan tujuan akhir yang ada dalam pikiran kita” atau memiliki visi maka kita mampu menentukan tujuan akhir hidup kita, dan dengan demikian kita mampu memimpin/mengarahkan diri kita sendiri. Sedang dengan kebiasaan ketiga “dahulukan yang utama” atau mampu menentukan prioritas maka kita melaksanakan berbagai aktivitas menurut urutan kepentingannya dan bukan berdasarkan urutan kegentingannya, dengan demikian kita mampu mengelola kehidupan pribadi.
Kebiasaan keempat, kelima dan keenam membimbing kita menuju pintu gerbang kemenangan publik, artinya kemenangan yang memungkinkan kita meraih keberhasilan dalam kerangka kerja sama dengan orang lain. Kebiasaan keempat “berpikir menang-menang” atau berpikir “jangan ada yang kalah” membuat kita selalu mencari alternatif yang memungkinkan semua pihak yang terkait dengan kita tidak ada yang kalah dan memperoleh manfaat, dengan demikian kita mampu memimpin orang lain. Kebiasaan kelima “berusahalah untuk mengerti dulu” atau sikap mendengarkan membuat kita selalu berusaha untuk mengerti orang lain dengan penuh perhatian, dan demikian kita mampu berkomunikasi secara efektif. Sedang kebiasaan keenam “wujudkanlah sinergi” atau menciptakan nilai tambah membuat kita berusaha selalu kreatif dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita dengan orang lain, dan dengan demikian kita mampu menciptakan kerjasama yang kreatif.
Akhirnya kebiasaan ketujuh “asahlah gergajimu” atau jadilah manusia pembelajar merupakan suatu kebiasaan yang melingkupi keenam kebiasaan terdahulu. Kebiasaan ini tidak lain adalah aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari yang dapat menanamkan prinsip-prinsip efektivitas ke dalam hidup kita. Dengan ini maka kita mengalami kemenangan atas diri sendiri yang sesungguhnya dan menjadi kunci perubahan yang kita kendalikan sendiri. Oleh karena itu membangun etos kerja tidak lain adalah membangun kepemimpinan yang visioner, di mana kita mampu memimpin diri sendiri, mampu memimpin orang lain dan bersama-bersama menuju ke masa depan, menuju dunia yang baru.
Keutamaan adalah pembiasaan, maka bila kita ingin menghayati apa yang telah kita renungkan selama ini maka tidak ada jalan lain marilah kita mulai melaksanakan pekerjaan rumah kita ini dengan tekun dan ulet dan disiplin, siap untuk menjadi murid (disciple) dari dan dalam kehidupan ini.
Bogor, 28 April 2003
Stanislaus Nugroho
Stanislaus Nugroho
Pendahuluan
Sejak John Locke (1632-1704) pekerjaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Bagi Locke lewat pekerjaannya manusia melegitimasi miliknya. Lebih-lebih bagi Locke milik merupakan salah satu dari tiga hak kodrati yang dimiliki manusia, dua lainnya adalah kehidupan dan kebebasan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) beranggapan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari kerja manusia. Kemudian Hegel (1770-1831) mengembangkan suatu filsafat tentang pekerjaan yang nantinya akan menjadi titik tolak bagi filsafat tentang pekerjaan yang dikembangkan oleh Karl Marx. Sebelum itu pekerjaan kurang mendapat perhatian bahkan dianggap rendah. Dewasa ini pekerjaan merupakan suatu gejala yang biasa, bahkan bisa dikatakan bahwa bekerja merupakan sesuatu yang khas manusiawi. Dewasa ini orang harus mempersiapkan diri bertahun-tahun dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar mendapat pekerjaan yang layak. Oleh karena itu ada baiknya bila kita merenungkan sejenak gejala manusiawi ini, agar kita semakin menyadari apa yang kita lakukan selama lebih kurang 10 jam per hari.
Apa tujuan kita bekerja?
Mengawali renungan ini maka ada baiknya bila kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas. Pada umumnya secara spontan kita akan menjawab bahwa kita bekerja agar mendapat uang? Jawaban ini tentunya tidak salah, namun apakah jawaban seperti ini sudah cukup memadai. Sebagai tujuan antara, kita harus menjawab secara afirmatif, namun pasti bukan sebagai tujuan akhir (bila kita meminjam istilah yang dipakai Aristoteles untuk membedakan antara tujuan antara dan tujuan akhir). Tujuan antara adalah tujuan yang dikejar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi batu loncatan ke tujuan lebih lanjut, sedang tujuan akhir adalah tujuan yang dikejar demi dirinya sendiri.
Namun dewasa ini terdapat kecenderungan kuat bahwa mencari uang merupakan tujuan akhir (uang harus dimengerti sebagai harta/kekayaan). Dewasa ini orang cenderung melakukan segala hal agar dapat mengakumulasi harta/kekayaan (lihat lampiran 1). Bahkan sering dengan sedikit bercanda saya berkata bahwa sila pertama dari Pancasila kita yang berbunyi “Ketuhanan yang mahaesa” telah bermetamorfosa menjadi “keuangan yang mahakuasa”. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari bekerja itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut alangkah baiknya bila kita menjawab pertanyaan yang lebih mendasar yaitu “apa itu pekerjaan?” Pekerjaan merupakan sesuatu yang sangat serius, karena bekerja merupakan suatu kegiatan yang seharusnya betul-betul direncanakan agar dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Selain daripada itu pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang serius karena melibatkan seluruh aspek kemanusiaan kita, baik itu sikap, penalaran, emosi, bakat, ketrampilan, pengalaman, pengetahuan maupun kemauan kita. Dalam kaitan ini ada baiknya bila kita sedikit merenungkan apa yang dikatakan oleh Konfusius, ketika ada orang bertanya kepada Konfusius, “apa yang paling mengherankan anda mengenai kemanusiaan?” Jawaban Konfusius adalah sebagai berikut “manusia kehilangan kesehatannya untuk menghasilkan uang dan kemudian kehilangan uang mereka untuk mengembalikan kesehatannya. Dengan khawatir mereka memikirkan mengenai masa depan, namun mereka melupakan masa kini, seolah-olah mereka tidak hidup untuk masa kini maupun untuk masa depan dan mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah mereka belum pernah hidup”.
Bila bekerja merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita maka pasti tujuan akhir dari bekerja bukanlah uang, melainkan bertumbuhkembangnya kemanusiaan kita, atau kalau meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow maka tujuan bekerja adalah agar manusia bisa mengaktualisasikan dirinya secara utuh dengan mengelola bumi dan segala isinya secara bijaksana, agar hidupnya menjadi “fully human, fully alive” sebagaimana diimpikan oleh John Powell. (lihat lampiran 2). Masalahnya bagaimana impian tersebut dapat direalisasikan? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita perlu membangun etos kerja yang efektif, sebagaimana ditawarkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People.
Membangun etos kerja
Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) maka kita menemukan penjelasan tentang etos sebagai “pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial”. Sedang bila kita membuka kamus Concise Oxford Dictionary maka kita menemukan penjelasan tentang ethos sebagai “characteristic spirit of community, people or system”. Sedang bagi Clifford Geertz dalam artikelnya yang berjudul “Ethos, world view and the analysis of sacred symbols” kita menemukan penjelasan sebagai berikut “ethos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup”. Dengan demikian maka etos merupakan semangat yang khas yang dihidupi oleh seseorang, sekelompok orang atau bangsa. Selain daripada itu bagi Clifford Geertz etos juga memiliki aspek evaluatif, dengan demikian bersifat penilaian.
Selanjutnya bagaimana kita bisa memiliki etos kerja tertentu? Dalam kaitan ini maka saya ingin menawarkan apa yang dikembangkan oleh Stephen R. Covey melalui bukunya yang berjudul “The Seven Habits of highly effective people”. Mengapa saya memilih Covey? Bagi saya Covey sangat serius, dia melakukan studi kepustakaan dengan rentang wakyu yang sangat panjang tentang pertanyaan yang berbunyi “Bagaimana mencapai hidup yang berhasil?” Selain daripada itu Covey secara “populer” mencoba untuk mengaplikasikan apa yang secara filosofis dibuat oleh Alasdair MacIntyre, yaitu kembali ke keutamaan, sebagaimana dipikirkan oleh Aristoteles sekitar 2500 tahun yang lalu. Secara tradisional (sejak Sokrates dan Plato) kita mengenal ada empat keutamaan dasar yaitu, kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Covey mencoba menterjemahkan keempat keutamaan tersebut menjadi tujuh kebiasaan (keutamaan merupakan suatu disposisi batin seseorang yang bersifat relatif tetap dan merupakan hasil dari suatu proses pembiasaan diri/hasil latihan yang ajeg), yaitu jadilah proaktif di mana orang bertindak karena didorong oleh nilai-nilai yang sudah dipertimbangkan dengan cermat, diseleksi dan dihati; mulailah tujuan akhir yang ada dalam pikiran anda ayau dengan perkataan lain tetapkanlah apa yang menjadi visi hidup anda; dahulukan yang utama artinya kita bisa menentukan apa yang prioritas dalam hidup kita ini; berpikir menang-menang atau dengan perkataan lain berusahalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pihak yang kalah; berusahalah untuk mengerti lebih dulu atau secara sederhana belajarlah mendengarkan/mendengar dengan hati; wujudkanlah sinergi atau wujudkanlah nilai tambah dan yang terakhir asahlah gergajimu atau jadilah manusia pembelajar. Dalam studinya Covey menemukan bahwa selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak bangsa Amerika merdeka (1776) maka etika keutamaan lebih diutamakan, di mana kualitas batin serta disiplin diri (yang sorotan majalah Warta edisi no. 12 Th. XIV/II/2003) menjadi sangat penting. Oleh karena itu nilai-nilai seperti kesederhanaan, ketulusan, kerendahan hati, keberanian, integritas, kejujuran, kerajinan dan hidup hemat sangat ditekankan. Namun sejak tahun 1930 an sampai sekarang bukan lagi keutamaan yang diutamakan melainkan tehnik-tehnik mempengaruhi orang lain, di mana pembinaan kehidupan sosial dan karir seseorang lebih diutamakan dan dipisahkan dari pembinaan keutamaan. Dengan lain perkataan terjadi pergeseran dari etika keutamaan ke etika kepribadian. Bagi etika kepribadian “keberhasilan hanyalah sekadar fungsi dari popularitas kita di masyarakat”. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila berakibat bahwa banyak orang dewasa ini bagaikan pohon tanpa akar yang kuat sehingga mudah terombang-ambing oleh mode dan godaan yang seolah-olah menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan.
Kembali ke etika keutamaan
Keutamaan merupakan hasil dari pembiasaan. Bagi Covey kebiasaan hidup efektif dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran abadi, a.l. hukum panen, yang berbunyi “kita akan memanen apa yang kita tanam”. Marilah kita renungkan bersama sebuah peribahasa Tiongkok kuno yang berbunyi “tanamlah pikiran, panenlah perbuatan; tanamlah perbuatan, panenlah kebiasaan; tanamlah kebiasaan, panenlah keutamaan; tanamlah keutamaan, maka anda akan memanen nasib anda sendiri”.
Manusia lahir sebagai bayi yang tak berdaya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi matang dan dewasa. Dimensi fisik, mental, emosi, sosial maupun spiritual kita berkembang bersamaan, meskipun tidak perlu sama cepatnya. Kematangan diri seseorang merupakan proses yang tidak pernah berakhir. Namun secara garis besar proses kematangan diri dapat digambarkan dalam tiga tahap, berawal dari tahap ketergantungan, tumbuh menjadi tahap kemandirian dan akan bermuara pada tahap kesalingtergantungan. Dalam saling ketergantungan manusia mengalami kekayaan perasaan dan keintiman hubungan antar-pribadi di samping hasil nyata dari suatu kegotongan royongan antar manusia. Saling ketergantungan melengkapi proses kematangan diri karena memungkinkan kita menjadi orang yang efektif (efektif tidak hanya berarti perolehan hasil (yang memang penting) melainkan kemampuan kita untuk memelihara serta meningkatkan mutu aset kita, seperti barang-barang, uang dan terutama kemanusiaan kita) dan sekaligus merasa bahagia dalam berbagai segi kehidupan kita.
Ketujuh kebiasaan yang ditawarkan oleh Covey merupakan rangkaian keutamaan yang tumbuh secara bertahap, dan sekaligus menampilkan aspek kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Kebiasaan pertama, kedua dan ketiga mengantar kita ke gerbang kemenangan pribadi, maksudnya memungkinkan kita mencapai kedaulatan dan kepemimpinan diri yang efektif. Karena dengan kebiasaan pertama “jadilah proaktif” maka kita menjadi bertanggungjawab karena sadar bahwa kita senantiasa bebas untuk memilih dan menentukan diri kita sendiri, dan dengan kebiasaan ini kita mampu membentuk visi atau wawasan pribadi apa yang menjadi cita-cita hidup kita. Dengan kebiasaan kedua “memulai dengan tujuan akhir yang ada dalam pikiran kita” atau memiliki visi maka kita mampu menentukan tujuan akhir hidup kita, dan dengan demikian kita mampu memimpin/mengarahkan diri kita sendiri. Sedang dengan kebiasaan ketiga “dahulukan yang utama” atau mampu menentukan prioritas maka kita melaksanakan berbagai aktivitas menurut urutan kepentingannya dan bukan berdasarkan urutan kegentingannya, dengan demikian kita mampu mengelola kehidupan pribadi.
Kebiasaan keempat, kelima dan keenam membimbing kita menuju pintu gerbang kemenangan publik, artinya kemenangan yang memungkinkan kita meraih keberhasilan dalam kerangka kerja sama dengan orang lain. Kebiasaan keempat “berpikir menang-menang” atau berpikir “jangan ada yang kalah” membuat kita selalu mencari alternatif yang memungkinkan semua pihak yang terkait dengan kita tidak ada yang kalah dan memperoleh manfaat, dengan demikian kita mampu memimpin orang lain. Kebiasaan kelima “berusahalah untuk mengerti dulu” atau sikap mendengarkan membuat kita selalu berusaha untuk mengerti orang lain dengan penuh perhatian, dan demikian kita mampu berkomunikasi secara efektif. Sedang kebiasaan keenam “wujudkanlah sinergi” atau menciptakan nilai tambah membuat kita berusaha selalu kreatif dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita dengan orang lain, dan dengan demikian kita mampu menciptakan kerjasama yang kreatif.
Akhirnya kebiasaan ketujuh “asahlah gergajimu” atau jadilah manusia pembelajar merupakan suatu kebiasaan yang melingkupi keenam kebiasaan terdahulu. Kebiasaan ini tidak lain adalah aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari yang dapat menanamkan prinsip-prinsip efektivitas ke dalam hidup kita. Dengan ini maka kita mengalami kemenangan atas diri sendiri yang sesungguhnya dan menjadi kunci perubahan yang kita kendalikan sendiri. Oleh karena itu membangun etos kerja tidak lain adalah membangun kepemimpinan yang visioner, di mana kita mampu memimpin diri sendiri, mampu memimpin orang lain dan bersama-bersama menuju ke masa depan, menuju dunia yang baru.
Keutamaan adalah pembiasaan, maka bila kita ingin menghayati apa yang telah kita renungkan selama ini maka tidak ada jalan lain marilah kita mulai melaksanakan pekerjaan rumah kita ini dengan tekun dan ulet dan disiplin, siap untuk menjadi murid (disciple) dari dan dalam kehidupan ini.
Bogor, 28 April 2003
Stanislaus Nugroho
Langganan:
Postingan (Atom)